Home / Renungan / BERMULA DARI CINTA, BERAKHIR DI SURGA

BERMULA DARI CINTA, BERAKHIR DI SURGA

Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perihal hari kiamat, “Kapankah datangnya hari kiamat?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Laki-laki tersebut menjawab, “Belum ada, selain modal kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau bersama yang kamu cintai.”

Berita dari Nabi ini menjadi penyejuk hati bagi orang-orang mukmin yang tepat dalam menambatkan cintanya. Namun sekaligus juga menjadi tamparan keras dan ancaman bagi orang-orang yang keliru dalam mengalamatkan cinta.

Bagi insan mulia semisal Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, ini sungguh berita yang sangat menggembirakan, hingga beliau berkata, “Tiada yang lebih menggembirakan hati kami daripada hadits Rasulullah, “Seseorang bersama yang dia cintai.”

Beliau juga mengatakan, “Aku mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap dapat berkumpul bersama mereka dengan bekal kecintaanku kepada mereka, kendati aku belum bisa beramal sebagaimana mereka beramal.”

Dengan modal cinta bisa ke surga? Bahkan bisa berkumpul dengan yang dicintainya di surga? Ya, begitulah. Akan tetapi dengan cinta pula seseorang tersungkur ke dalam neraka. Tergantung kepada apa atau siapa ia memberikan cintanya dan bagaimana ia mengekspresikan cintanya.

Hadits tersebut sekaligus menjadi tamparan keras bagi mereka yang mencintai, membanggakan, menyanjung, ataupun mengidolakan manusia dengan tipe maghdhubun ‘alaihim (orang-orang yang dimurkai Allah) dan dhaallun (orang-orang yang sesat). Atau mencintai orang-orang yang memiliki karakter dan perilaku calon penghuni neraka. Karena kecintaan itu akan menempatkan antara yang mencinta dan dicinta di tempat yang sama. Hanya saja kebersamaan tersebut bukan lagi untuk saling mencintai dan menyanjung.  Tapi sebagai musuh satu sama lain.

Semoga Allah anugrahkan cinta yang menjadi sebab diperolehnya naungan Allah di makhsyar. Dan juga cinta yang akan mendudukkan pemiliknya ke derajat mulia di jannah, hingga para Nabi dan syuhada’ takjub dengan kedudukan mereka, sebagaimana kabar yang diberitakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-haditsnya.

Dan semoga Allah anugerahkan kepada kita kecintaan kepada-Nya dan karena-Nya. Aamiin.

Designed by Mitramuslim