Sebagai orangtua tentu menjadi tanggung jawab yang sangat berat dalam mendidik seroang anak. Kadang kala mereka harus menyesuaikan dengan karakter sang anak, ada yang memang membutuhkan perhatian yang lebih ekstra, dan ada juga yang tidak perlu mengeluarkan tenaga yang berlebihan. Cukup dengan memberikaan contoh dari tiap pendidikan yang akan diberikan, misalnya pengalaman sang ibu atau ayah yang dijadikan contoh nyata. Kenapa pengalaman orangtua? Karena mereka dapat lebih mengingat dengan mudah dan akan dapat tersimpan dengan baik.
Setiap orangtua memiliki tanggung jawab yang besar, tak terkecuali di hari raya idul fitri. Momen tersebut bisa menjadi sarana dalam melatih moral anak-anak kita. Saat berkumpul bersama keluarga di rumah, atau menempuh perjalanan mudik, kita mendapat kesempatan mengenalkan kembali anak kita akan hal-hal baru yang sehari-hari kadang terlewatkan.
Biasakan dan Contohkan
Salah satu hal yang bisa kita ajarkan kepada anak adalah tentang pentingnya saling memaafkan. Kata “mohon maaf lahir batin” sering sekali diucapakan dan sudah menjadi kalimat umum yang wajib diucapkan tiap kali lebaran. Tak terkecuali menjadi bagian dari pendidikan anak-anak tiap hari raya ini datang. Sebenarnya kalimat ini adalah kalimat biasa yang berjumlah empat suku kata, namun jika jelih melihat dan memikirkan, kita dapat menjadikannya sebagai sebuah ajakan untuk benar-benar meminta maaf. Kita dapat memahamkan kepada anak-anak kita bahwa kata maaf disini tidak hanya sekedar ucapan saja, melainkan juga berniat agar tidak melakukan prilaku buruk atau negatif lagi di hari lain.
Selain itu, setelah mengucapkan kalimat tersebut biasanya kita juga akan berjabatan tangan, baik dengan yang lebih muda, sebaya atau orang yang lebih tua dari kita. Dengan menggunakan tangan kanan, sambil menciumnya atau menyentuh jidat kita. Sebenarnya kebiasaaan ini sangat penting bagi sang anak. Sebagai simbol dari sikap menghormati orang yang lebih tua atau dewasa dari kita.
THR Bagi Anak
Kebiasaan lain yang berlaku ditengah masyarakat kita adalah tentang berbagi bingkisan atau sejumlah uang kepada anak kecil sewaktu lebaran. Sebagian orang tua menganggap bahwa hal ini tidaklah baik untuk psikologi anak-anak mereka. Namun, ada juga sebagian orangtua menganggap hal tersebut justru baik dengan alasan melatih anak untuk lebih belajar mandiri dengan berusaha untuk mendapatkan sebuah imbalan dari usaha yang telah dilakukannya.
Dalam momentum idul fitri kebiasaaan memberi hadiah punya efek positif, baik dalam bentuk uang ataupun sebuah bingkisan kepada sang anak sebagai penghargaan karena telah berpuasa selama sebulan penuh misalnya, atau hal lain yang telah mereka lakukan. Biasanya juga ketika banyak keluarga datang dari luar kota tidak sedikit yang membagikan THR atau sering orang sebut sebagai Tunjangan Hari Raya kepada sanak saudara atau keluarga di hari lebaran.
Kebiasaaan seperti ini bisa menanamkan nilai saling berbagi kepada anak. Pentingnya saling berbagi rezeki yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala. Namun dengan memberikan pemahaman ke anak-anak bahwa setelah kita bekerja keras maka kita dapat merasakan hasil jerih payah setelah bekerja keras.
Mengajari Anak Manajemen Keuangan
Bisa dipastikan setiap Lebaran anak-anak berubah menjadi seorang ‘juragan’. Dalam hitungan hari mereka tiba-tiba memiliki banyak uang, terutama lembaran uang baru dengan pecahan dari 2.000 sampai 50.000. Biasanya, uang yang didapatkan dari hasil berkunjung ke tetangga, sanak saudara dan apresiasi atas puasa selama Bulan Ramadhan (untuk anak yang masih SD) ini, akan terkumpul melebihi uang jajan selama sebulan. Bayangkan, dengan serunya Idul Fitri, seorang anak bisa saja ‘menghasilkan’ uang sampai ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah.
Ada beberapa tips agar anak bisa dengan bijak membelanjakan uang angpaunya:
Pertama, ingatkan bahwa angpau yang mereka terima adalah rejeki yang diberikan Allah melalui orang-orang di sekitar mereka. Angpau itu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan pahala ibadah yang dilakukan selama ini.
Kedua, sebelum membelanjakannya, keluarkan sebagian untuk sedekah. Memberi sedekah kepada orang lain berarti mengajarkan anak untuk berempati terhadap sesama. Sedangkan jumlahnya bisa disesuaikan dengan banyaknya uang dan niat sang anak.
Ketiga, lebaran kali ini berdekatan dengan kenaikan kelas. Jadi, ajarkan anak membeli kebutuhan sekolah menggunakan angpaunya sendiri walaupun tidak semua. Seperti membeli buku tulis, pena dan pensil. Sedangkan kebutuhan yang lebih besar, semisal seragam atau sepatu, tetap kita yang memenuhinya.
Keempat, jangan menghabiskan uang angpau. Biasakan anak menabung. Bisa di celengan, atau di bank-bank terdekat. Saat ini banyak bank yang memfasilitasi anak-anak untuk menyimpan uangnya dengan jumlah yang terjangkau, mulai 20.000 dan 50.000. Tentu ini akan memudahkan anak-anak untuk menabung. Apalagi jika orangtua sangat mendukung dan sesekali memberi tambahan.
Mendidik anak-anak adalah tabungan di akhirat jika orangtua mengajarkan anak-anak untuk bersyukur, berempati dan berbagi.
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta