Home / Renungan / BAHAGIA ATAU BERSEDIH?

BAHAGIA ATAU BERSEDIH?

Tidak terasa sudah sebulan kita menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Dan saatnya kita berpisah dengan bulan yang penuh barakah, bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah, serta bulan dimana banyak yang dibebaskan dari siksa neraka. Saking lebarnya pintu pengampunan bagi para hamba, Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, “Siapa saja yang tidak mendapati pengampunan pada bulan Ramadhan, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, hlm. 378).

Para ulama salaf terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. ‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal.

Fudhalah bin ‘Ubaid juga mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya.

Oleh karena itu sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Lihat pula perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima.

Akan tetapi, sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Para salaf mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu ‘pede’ dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.

Semoga di tahun ini kita bisa melepas Ramadhan sebagaimana para ulama salaf. Melepas dengan harap-harap cemas. Memohon agar ibadah kita selama sebulan diterima dan memohon keistiqomahan untuk beribadah di bulan-bulan berikutnya. Aamiin.

Designed by Mitramuslim