Dalam kehidupan yang semakin modern dan berkembang ini, kita dihadapkan pada gejala fakta fatamorgana, dimana sesuatu yang baik dan benar dianggap asing dan dipandang miring. Maka kewajiban setiap muslim beristiqamah untuk menjaga amalan-amalan sunnah maupun wajib. Melaksanakan semua perintah Allah Swt dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangannya sejauh-jauhnya.
Karena kita tahu bahwasannya maut menjemput bisa dimana saja dan kapan saja. Lantas apakah kita mau mati dengan su’ul khotimah? Sebagai seorang muslim pastilah husnul khotimah sebagai impian tertinggi pada kehidupan yang fana ini.
Istiqomah adalah upaya seseorang untuk menempuh ajaran agama islam yang benar dengan tidak berpaling ke kanan maupun ke kiri. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.
Jangan Lupa Berdoa
Ada doa yang rugi kalau kita tidak hafalkan dan amalkan, karena doa ini adalah doa untuk diberi istiqamah oleh Allah Ta’ala.
Di dalam Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat:
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ–: ((اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ)) . َروَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA MUSHORRIFAL QULUUB SHORRIF QULUUBANAA ‘ALA THOO’ATIK.” (Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu).” (HR. Muslim, no. 2654).
Dalam riwayat selengkapnya disebutkan,
إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati manusia seluruhnya di antara jari jemari Ar-Rahman seperti satu hati, Allah membolak-balikkannya sekehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654).
Berbolak-Baliknya Hati
Hati manusia di antara jari jemari Ar-Rahman, Allah membolak-balikkan sekehendak-Nya. Sudah sepatutnya bagi setiap hamba untuk meminta pertolongan dari Allah untuk mendapatkan hidayah, agar terus istiqamah, dan tidak menyimpang.
Manusia tidak boleh menggantungkan urusannya pada dirinya sendiri karena tidak akan bisa selamat. Namun bergantunglah kepada Allah. Jangan bergantung pada diri sendiri untuk urusan hidayah walau sekejap mata, gantungkanlah hal itu pada Allah semata.
Seorang hamba mukmin hendaklah menempuh sebab dan cara untuk bisa selamat dengan meminta tolong kepada Allah, karena Allah yang menggenggam segala sesuatu dengan mudah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengajarkan faedah yang bagus tentang doa ini di mana kalimat ‘ALA THOO’ATIK mempunyai makna sangat dalam. Artinya, kita minta kepada Allah supaya hati kita terus berada pada ketaatan dan tidak beralih kepada maksiat.
Hati jika diminta supaya balik pada ketaatan, berarti yang diminta adalah beralih dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya, yaitu dari shalat, lalu beralih pada dzikir, lalu beralih pada sedekah, lalu beralih pada puasa, lalu beralih pada menggali ilmu, lalu beralih pada ketaatan lainnya. Maka sudah sepantasnya doa ini diamalkan.
Doa Serupa
Di dalam riwayat yang lain disebutkan redaksi yang berbeda tentang doa memohon keistiqomahan. Diantaranya adalah doa:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي
“Ya Allâh, berikanlah hidayah kepadaku dan berilah taufik kepadaku untuk tetap lurus (benar dalam segala hal).”
Dalam riwayat lain disebutkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ
“Ya Allâh, aku memohon kepada-Mu petunjuk dan taufik agar tetap istiqâmah.”
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa ini secara langsung kepada ‘Ali bin Thâlib Radhiyallahu anhu.
Syaikh Abdurrazâq hafizhahullâh mengatakan, “Doa ini berisi permohonan hudâ dan sadâd (taufik agar tetap lurus dalam segala hal) kepada Allâh Azza wa Jalla. Keduanya merupakan raihan tertinggi dan anugerah termulia. Kesuksesan dan kebahagiaan tidak akan pernah terwujud kecuali dengan keduanya. Oleh karenanya, sangat penting untuk menganjurkan kaum Muslimin agar mengamalkan doa ini.”
Beliau hafizhahullâh juga mengatakan, “Ini adalah sebuah doa yang agung. Kalimat-kalimatnya singkat, namun kandungan kebaikannya begitu agung dan umum (mencakup banyak hal). Ini termasuk dalam kategori jawâmi’ul kalim; kalimat singkat namun memiliki makna luas yang menjadi salah satu keistimewaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fiqhul Ad’iyah wal Adzkâr, jilid 4, hlm. 164-166).
Istiqamah bukan sesuatu yang bisa diperlakukan sebagai komoditas. Muslim tak bisa membelinya dan mendapatkan secara gratis. Istiqamah adalah proses yang dijalani Muslim untuk menjadi manusia lebih baik di mata Allah. Sepanjang perjalanan, Muslim bakal menemui rintangan. Ketika berhasil melaluinya maka Muslim akan naik level.
Semoga Allah penuhi hati kita dengan keimanan kepada-Nya dan menyempurnakannya dengan karunia istiqomah hingga ajal menyapa kita. Aamiin.
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta