Home / Renungan / ISLAM KAFAH, BUKAN PILAH MEMILAH

ISLAM KAFAH, BUKAN PILAH MEMILAH

Tradisi prasmanan di negeri ini memang telah mengakar kuat. Gaya penyajian yang memberikan kebebasan memilih, mana yang disuka dicomot, sedangkan tidak sesuai selera ditinggalkan. Akan tetapi, yang patut disayangkan adalah banyak dari kaum muslimin mempraktekan gaya prasmanan dalam beragama. Syariat yang sesuai dengan nafsu ia terima, sedangkan yang berat terasa ia menolaknya.

Sikap seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah.

Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, loyalitasnya ia berikan kepada non muslim, bahkan musuh Islam.

Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; makan, minum dan dusta ia tinggalkan. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, melakukan money politic, bermain culas dan korupsi.

Begitu pula dalam masalah hukum, ayat-ayat suci seringkali tertindih ayat-ayat konstitusi dan hukum warisan Belanda. Perda-perda syariah dilarang untuk diterapkan. Dituduh tidak menghargai kebinekaan atau melanggar HAM. Syariat Islam beserta hukum-hukumnya hanya boleh diterapkan di Pengadilan Agama saja, itu pun hanya sebatas pilihan. Sedangkan hampir seluruh aspek kehidupan, diatur bukan dengan hukum yang dimaui oleh Allah Ta’ala.

Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang cara mengatur negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan bagaimana berpolitik. Islam mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.

Ketika seseorang telah memutuskan dirinya memeluk agama Islam; satu-satunya agama yang benar, maka ia harus menerima seluruh konsekuensinya secara sempurna tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. (Abu Absi).

Designed by Mitramuslim