Home / Niswah / Bukan Sekedar Menyekolahkan

Bukan Sekedar Menyekolahkan

Data sensus penduduk di negeri ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduknya beragama Islam. Ini adalah sebuah realita yang seharusnya dengannya kita bisa melihat adanya sebuah generasi yang tangguh, tetapi ternyata tidak. Mari kita lihat keadaan diri dan anak-anak kita. Kenyataannya masih sangat sedikit yang benar-benar serius memperhatikan pendidikan. Sebagian besar acuh dan tidak peduli.

Mungkin banyak yang merasa keberatan dengan pernyataan di atas dan menyanggah bahwa mereka telah memperhatikan pendidikan anak-anaknya. “Saya akan melakukan segalanya demi pendidikan mereka. Seandainya harus menjual tanah, saya akan melakukannya untuk bisa menyekolahkan mereka sampai jadi sarjana. Biarpun saya cuma lulusan SMP, tapi saya ingin anak saya berpendidikan tinggi.”

Seperti inilah yang kebanyakan kita pahami tentang kewajiban mendidik anak, yaitu menyekolahkan anak sampai tinggi, atau bagaimana supaya anak menjadi cerdas, pintar, dan tidak gagap teknologi. Untuk bisa menyekolahkan anak sampai sarjana, kita rela menjual tanah atau cari hutangan tapi untuk agama mereka kita tidak peduli.

Kita bisa geger ketika melihat nilai matematika anak kita dapat angka 3, lalu segera keliling cari tempat kursus yang bagus untuknya. Tapi kita tidak peduli ketika anak kita diajari bahwa agama di Indonesia ini ada lima dan semua agama itu sama. Semuanya mengajarkan kebaikan, jadi harus saling menghormati. Padahal telah nyata kebenaran bahwa agama yang Allah ridhai hanyalah Islam.

Kebanyakan dari kita, seandainya pun memperhatikan kelakuan anak, berkelakuan baik yang dimaksud tolok ukurnya adalah masyarakat. Jadi ketika melihat putri kesayangan jalan-jalan ke mall dengan pakaian ‘pas-pasan’ bersama teman laki-lakinya, ini masih termasuk dalam kriteria ‘berkelakuan baik dan tidak nakal’ karena masyarakat menganggap wajar. Padahal jika dilihat dari tolok ukur yang benar, keduanya bertentangan dengan syariat.

Wahai Para Pendidik

Sikap mendidik yang seperti ini secara tidak langsung seperti kita mengatakan pada anak kita, “Wahai anakku! Kejarlah duniamu! Lupakan akhiratmu!” Padahal tentang kehidupan dunia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun bagi seorang kafir.” (HR. Tirmidzi).

Bahkan Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tapi bodoh dalam urusan akhirat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya.” (Shahih Jami’ ash-Shaghir).

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Rum:7). Ayat tersebut merupakan peringatan keras bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan akhiratnya dilupakan. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu Islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/428).

Mengembalikan Kejayaan Umat

Untuk mengangkat umat ini dari kehinaan Allah telah memberi solusi, yaitu dengan kembali pada agama yang lurus. Kondisi kaum muslimin saat ini masih jauh dari nilai-nilai Islam. Kita bisa melihat saat adzan Dzuhur dikumandangkan, masjid-masjid sepi dari para jamaah padahal pada waktu yang bersamaan pasar-pasar dan jalan-jalan ramai dipenuhi oleh kaum muslimin.

Kita juga bisa melihat orang-orang yang berusaha untuk berpegang teguh pada sunnah dianggap aneh. Seperti misalnya celana cingkrang (di atas mata kaki), jenggot, jilbab syar’i, tidak mau berjabat tangan dengan lawan jenis, menjauh dari ibadah-ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan masih banyak lagi. Ini adalah keadaan yang menyedihkan karena syariat Islam dipandang asing oleh pemeluknya sendiri.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah memberikan teladan apik ketika beliau berdoa tentang anak keturunannya, pandangannya jauh kedepan. Tidak sekedar pada kenikmatan-kenikmatan dunia. Tetapi yang beliau harapkan adalah agar Allah menjadikan mereka sebagai umat yang tunduk patuh pada-Nya, mengutus rasul pada mereka sehingga tidak tersesat dalam kegelapan.

Tujuan kita adalah mengajak generasi meniti jalan yang lurus untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan kita bukan sekedar berapa nilai matematika anak kita, bagaimana kemampuan bahasa inggrisnya, dapat rangking berapa, bisa masuk universitas mana, bisa kerja dimana, bisa belikan kita mobil berapa, atau bisa jadi pejabat tidak. Tidak sependek itu.

Tidak sekedar anak kita bisa menyelesaikan ujian akhir semester dengan sukses dan melupakan yang lain padahal ada ujian yang menanti yang jauh lebih besar ketika kita ditanya siapa Robbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu. Maka seharusnya kita segera mempersiapkan diri. Mendidik diri-diri kita dan keluarga untuk kembali pada agama ini. (Abu Absi).

Designed by Mitramuslim