Home / Kajian Utama / BULAN HARAM, HADIAH BAGI ANAK ADAM

BULAN HARAM, HADIAH BAGI ANAK ADAM

Berjalannya waktu, silih bergantinya hari dan berlalunya bulan dan tahun, mengandung pelajaran yang berharga bagi orang yang mau merenungkannya.

Tidak ada satu tahun pun berlalu dan tidak pula satu bulan pun menyingkir, melainkan dia menutup lembaran-lembaran peristiwanya saat itu, pergi dan tidak kembali. Jika baik amal insan pada masa tersebut, maka baik pula balasannya. Namun jika buruk, penyesalanlah yang mengikutinya!

Bukanlah inti masalah ada pada kapan sebuah bulan telah usai dan kapan ia mulai menjelang, akan tetapi yang menjadi inti masalah adalah dengan apa kita dahulu mengisi bulan-bulan yang telah berlalu itu dan bagaimana kita akan hiasi bulan-bulan yang akan datang.

Sehingga ia senantiasa berada dalam dua bentuk tafakkur; tafakkur hisab dan tafakkur isti’daad. Tafakkur berpikir yang pertama, yaitu tafakkur hisab (intropeksi). Dia memikirkan dan menghitung-hitung amalannya di tahun yang telah silam, lalu dia teringat (tadzakkur) akan dosa-dosanya, hingga hatinya menyesal, lisannya pun beristighfar, memohon ampun kepada Rabbnya.

Tafakkur yang kedua, yaitu tafakkur isti’daad (persiapan). Dia mempersiapkan keta’atan pada hari-harinya yang menjelang, sembari memohon pertolongan kepada Tuhannya, agar bisa mempersembahkan ibadah yang terindah kepada Sang Penciptanya.

Mengenal Bulan Haram

Dalam Islam, dikenal istilah bulan haram. Disebut dengan bulan haram karena pada bulan tersebut diharamkan maksiat dengan keras, begitu pula pembunuhan atau peperangan. Demikian kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab beliau Taisir al-Karimir Rahman.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. at-Taubah: 36).

Nama-Nama Bulan Haram

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits menyebutkan nama-nama bulan haram yang dimaksudkan dalam firman Allah Ta’ala pada ayat yang telah berlalu.

Imam Al-Bukhari (3197) dan Imam Muslim (1679), dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau sedang berkhutbah di hadapan manusia, pada hari raya Idul Adha, saat haji Wada’. Diantara yang beliau sabdakan adalah:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ ، وَذُو الْحِجَّةِ ، وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبٌ ، شَهْرُ مُضَرَ ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.

Sesungguhnya zaman ini telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab, (yaitu) bulan yang dikenal oleh (suku) Mudhar yang berada diantara bulan Jumada (Akhir) dan bulan Sya’ban.”

Ulama menjelaskan alasan disandarkannya bulan Rajab kepada kabilah Mudhar. Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah, “Disandarkan bulan tersebut -yaitu bulan Rajab- ke kabilah Mudhar untuk menjelaskan kebenaran pandangan mereka tentang Rajab, bahwa (yang dimaksudkan dengan) bulan tersebut adalah bulan yang terletak diantara bulan Jumada (Akhir) dan bulan Sya’ban.”

“Tidak sebagaimana disangka oleh kabilah (suku) Rabi’ah bahwa Rajab yang merupakan bulan haram itu adalah bulan yang terletak diantara bulan Sya’ban dan Syawwal, yaitu bulan Ramadhan yang sekarang kita kenal”.

“Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa bulan Rajab yang merupakan bulan haram itu adalah bulan Rajab yang dikenal oleh kabilah Mudhar, dan bukan bulan Rajab yang dikenal oleh kabilah Rabi’ah.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/25).

Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan pendapat lain tentang hal ini, “Adapun penyandaran bulan tersebut -yaitu bulan Rajab- ke kabilah Mudhar, ada yang beralasan karena dahulu kabilah Mudhar sangat memuliakan dan menghormati bulan tersebut (melampui yang lainnya), oleh karena itu disandarkan bulan tersebut kepada kabilah mereka.

Namun ada pula yang berpendapat bahwa kabilah Rabi’ah memandang Ramadhan adalah bulan haram, sedangkan kabilah Mudhar memandang Rajab adalah bulan haram. Kemudian (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menetapkannya hal itu dengan sabda beliau :

الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Yang berada diantara bulan Jumada (Akhir) dan bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, 3197 dan Muslim, 1679).

Kenapa Dinamakan Bulan Haram?

Menurut al-Qodhi Abu Ya’la, ada dua alasan dan dua makna mengapa Allah Ta’ala menamakannya bulan haram:

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan itu pula diharamkan melakukan tindakan dan perbuatan haram. Perintah ini lebih ditekankan daripada bulan lainnya karena kemuliaan bulan tersebut. Sebaliknya, pada bulan haram, dianjurkan untuk lebih memperbanyak perbuatan baik dengan melakukan amalan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. (Zaadul Masiir, Tafsir surat at-Taubah ayat 36).

Berbicara tentang keutamaan bulan-bulan haram sama halnya ketika membicarakan keutamaan surat-surat maupun ayat-ayat dalam al-Qur’an. Kita tidak bisa membicarakan tentang keutamaan surat maupun ayat secara parsial, karena bisa menyebabkan kita bersikap diskriminatif terhadap satu ayat dengan ayat lainnya.

Sebagai contoh ketika kita mengetahui keutamaan surat Yasin, maka kita sangat mengutamakan membaca surat Yasin dibanding membaca surat-surat yang lain. Tidak jarang, di antara kita bersikap berlebihan terhadap surat Yasin ini dengan menjadikannya surat yang wajib dibaca pada setiap malam Jum’at. Oleh karena itu, dalam menyikapi keutamaan bulan-bulan tertentu yang diberi oleh Allah keutamaan kita harus bersikap proporsional dengan cara tidak mengesampingkan keutamaan bulan-bulan yang lain.

Bulan haram atau disebut juga bulan yang disucikan (sebagaimana yang disebutkan oleh at-Thabari dalam kitab tafsirnya) ialah bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai bulan yang suci lagi diagungkan kehormatannya. Dimana di dalamnya amalan-amalan yang baik akan dilipatgandakan pahalanya sedangkan amalan-amalan yang buruk akan dilipatgandakan dosanya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa bulan yang disucikan itu ada empat, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dzulqa’dah mempunyai keistimewaan karena di dalamnya Allah melarang manusia untuk berperang. Di dalam Dzulhijjah manusia mempersiapkan diri untuk melaksanakan ritual dan manasik haji. Pada bulan Muharram mereka kembali ke negri mereka masing-masing. Sedangkan pada bulan Rajab orang dari berbagai pelosok negeri yang datang ke Baitullah kembali ke negerinya dalam keadaan aman. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah bulan Rajab menjadi momentum Nabi Muhammad berkomunikasi dengan Allah untuk menerima perintah shalat pada peristiwa isra’ mi’raj.

Kemuliaan Bulan Haram

Di antara keutamaan yang telah Allah tetapkan bagi bulan-bulan haram ini adalah dilipatgandakannya pahala bagi seorang yang mengerjakan amalan shalih, sehingga seorang hamba akan lebih giat melakukan amalan kebaikan pada bulan-bulan tersebut.

Begitu pula, perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya menjadi lebih besar di sisi Allah, sehingga seorang hamba bisa meraih ketakwaan yang lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya, dengan semakin menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan demikian, kebahagiaan, ketentraman, dan keselamatan di dunia dan akhirat bisa terwujud.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat di atas,  “Janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam seluruh bulan. Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar. Demikian pula, Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar pula” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/26).

Adapun Imam Qotadah rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Karena kezhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dari pada kezhaliman yang dilakukan pada bulan-bulan selainnya. Walaupun zhalim dalam setiap keadaan itu pada hakekatnya perkara yang besar (terlarang), akan tetapi Allah menetapkan besarnya sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.”

Beliau juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah memilih diantara makhluk-Nya, hamba-hamba pilihan-Nya, memilih para utusan dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia. Dia memilih suatu firman agar hamba-Nya bisa mengingat-Nya, memilih tempat dari wilayah bumi untuk digunakan melakukan sujud.

Diantara bulan-bulan yang ada, Allah pun telah memilih Ramadhan dan bulan-bulan haram. Dia memilih hari Jum’at diantara hari-hari yang lainnya, memilih malam Lailatul Qadar diantara malam-malam yang ada. Maka agungkanlah segala yang diagungkan oleh Allah, karena menurut pandangan orang yang memiliki pemahaman dan akal yang baik bahwa sesuatu itu menjadi agung dengan diagungkan oleh Allah!”

Semoga kita bisa memanfaatkan momen yang sangat baik ini untuk memperbanyak ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Sehingga bisa menjadi pemberat timbangan amal dan sekaligus menambah tabungan kita di akhirat kelak.

Di dunia, selamat dengan meniti jalan yang lurus (Ash-Shiraath Al-Mustaqiim). Di akhirat, selamat ketika meniti jembatan (Ash-Shirath) yang dibentangkan di atas neraka Jahannam, sehingga masuk ke dalam Surga Allah, bisa berjumpa dengan-Nya dan melihat wajah-Nya. Kita memohon kepada Allah, agar Dia menganugerahkan kepada kita kenikmatan yang terbesar, yaitu: bisa melihat Wajah-Nya.

Designed by Mitramuslim