Home / Kajian Utama / KENDALIKAN NAFSUMU

KENDALIKAN NAFSUMU

Perbudakan yang sesungguhnya adalah perbudakan hati oleh syahwat. Jika hati telah dikuasai syahwat ia akan menuruti segala keinginannya dan tertawan olehnya. Perbudakan oleh syahwat adalah perbudakan terkeji.

Sebagian Salaf mengatakan, Tuhan terburuk yang disembah manusia adalah syahwat. (Nadhrotun Naim, IX/3770). Syahwat akan memperbudak manusia sebudak-budaknya. Memaksanya bertekuk lutut hingga wajahnya tersungkur sujud ke bumi. Dan akhirnya, membenamkannya di lembah kehinaan dunia dan akhirat. Sebaliknya, memerdekakan diri dari syahwat adalah sebuah kemerdekaan hakiki. Kebebasan yang membahagiakan dan menjadikan jiwa benar-benar menjadi pemimpin bagi dirinya.

Memerdekakan Diri

Mengapa saat orang kafir menawarkan kepada Nabi Muhammad jabatan, harta dan wanita, beliau menolaknya? Bukankah beliau bisa menggunakan jabatan itu menyebarkan dakwah secara lebih bebas karena beliaulah pemimpinnya? Bukankah harta itu bisa digunakan untuk membantu pengikutnya yang masih menjadi budak dan disiksa majikannya karena beriman? Dan bukankah beliau bisa menyuruh isteri-isterinya berdakwah kepada wanita Quraisy dan bisa sukses dakwahnya karena suaminya adalah pemimpin Makkah?

Tidak. Apa yang ditawarkan orang kafir tak lain adalah belenggu dan penjara jiwa. Mashlahat itu hanyalah asumsi yang tidak memiliki pendukung selain nafsu. Persis seperti jebakan tikus, memang ada sedikit makanan di dalamnya, tapi ketika dimakan, besi-besi berduri akan menjepit hingga membuat tikus tak bisa lari. Jika nabi menerima tawaran itu, yang akan terjadi adalah beliau bakal diperbudak oleh orang kafir dengan jabatannya, hartanya dan isteri-isterinya.

Mengapa saat isteri al-Aziz memaksa Yusuf untuk menuruti syahwatnya, Yusuf memilih menghindar? Bukankah itu keinginan si wanita cantik itu? Bukankah ia dipaksa? Bukankah jika pun terjadi, keduanya bisa menutupinya agar tidak ketahuan oleh siapapun? Dan bukankah Nabi Yusuf sendiri juga sudah mulai terpancing?

Atau ketika Abu Bakar al-Miski dipaksa masuk ke dalam kamar oleh seroang wanita cantik lalu dikatakan bahwa jika dia tidak mau menuruti syahwat si wanita, si wanita akan teriak bahwa Abu Bakar mau memperkosanya.  Mengapa Abu Bakar tak menuruti saja, bukankah dia dipaksa? Tapi Abu Bakar malah masuk ke dalam toilet lalu melumuri tubuhnya dengan kotoran manusia. Si wanita pun jijik dan akhirnya mengusirnya.

Nafsu Dituruti, Akal pun Mati

Jika Yusuf dan Abu Bakar al-Miski menuruti keinginan si wanita, keduanya pun akan menjadi budaknya. Setiap kali isteri al-Aziz tersulut syahwatnya, dia akan memaksa Yusuf dan Yusuf pun akan menurutinya. Demikain pula Abu Bakar al-Miski, akan menjadi budak si wanita dan tidak mendapatkan gelar al-Miski karena tubuhnya selalu berbau harum.

Begitulah hawa nafsu. Dia adalah musuh yang suka memperbudak. Sesiapa yang menurutinya, berarti seperti memberikan apa yang diinginkan musuhnya. Dan sesuatu yang akan dibunuh oleh awa nafsu adalah akal. Jika nafsu dituruti, akal akan mati. Al-Hakim berkata, “Akal itu kawan yang sering dihindari sementara hawa nafsu adalah musuh yang sering diikuti.” (Adabud Dunya wad Dien: 12).

Lawan Utama Nafsu Adalah Akal

Ketika Allah menyertakan hawa nafsu dalam penciptaan manusia, maka Allah juga menyertakan akal untuknya. Kemudian Allah menurunkan wahyu untuk membimbing akal agar bisa menjadi pengendali dan pemandu bagi hawa nafsu.

Antara akal dan nafsu tak henti-hentinya berseteru pada diri manusia. Peta kekuatan antara keduanya berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Bahkan dalam diri satu orang, kondisinya silih berganti dari waktu ke waktu.

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “jika pagi hari tiba, maka berkumpullah hawa nafsu, amal dan ilmu (akal) manusia. Jika dia berbuat mengikuti hawa nafsu, maka hari itu adalah hari yang buruk baginya. Dan jika dia berbuat dengan mengikuti ilmunya, maka hari itu adalah hari yang baik baginya.” Kemuliaan dan kehinaan manusia sangat bergantung pada posisi pertarungan antara keduanya.

Yang paling hina di antara manusia adalah orang yang akalnya didominasi oleh hawa nafsu. Dia menjadi tawanan bagi hawa nafsunya. Akalnya tidak dikerahkan untuk mengendalikannya. Bahkan akal diperalat untuk menjadi pembenar setiap apa yang diingini hawa nafsunya. Dia tidak berfikir kecuali dengan sudut pandang nafsunya, membenci dan menyenangi juga berdasarkan kecenderungan nafsunya, berbuat dan bertindak pun hanya mengikuti selera hawa nafsunya. Dialah yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. al-Furqan: 43).

Standar Mulia dan Hinanya Manusia

Derajatnya paling rendah di kalangan manusia, atau bahkan lebih rendah lagi dari itu. Seorang tabi’in, Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Allah menciptakan malaikat disertai akal dan tidak memiliki syahwat. Allah menciptakan binatang dengan menyertakan syahwat tanpa akal. Sedangkan Allah menciptakan manusia dengan menyertakan keduanya, akal dan syahwat. Maka barangsiapa yang akalnya mampu mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik dari malaikat, dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk dari binatang.”

Mengapa dia dikatakan lebih buruk dari binatang? Karena binatang tidak memiliki akal, wajar jika mereka memperturutkan hawa nafsunya. Tapi dimanakah akal manusia tatkala mereka memperturutkan setiap kehendak nafsunya?

Derajat yang sedikit lebih baik dari yang pertama adalah posisi dimana dorongan nafsu dan bimbingan akal memiliki kekuatan yang berimbang. Sesekali hawa nafsu yang unggul, namun di waktu yang lain akal menundukkannya dan membawanya kepada ketaatan.

Posisi ini berpotensi melorot ke arah derajat yang paling rendah. Yakni ketika pemiliknya mendekatkan diri kepada lingkungan dan suasana yang melemahkan ilmu dan ketaatannya. Namun juga memiliki peluang untuk naik ke derajat yang lebih dan bahkan paling tinggi. Di mana akal mampu memenangi hawa nafsu secara telak. Yakni ketika dia menyadari potensi itu, lalu berusaha menguatkan posisi ilmu dan iradah (kemauannya) dalam kebaikan. Dengan mendalami ilmu-ilmu syar’i, bergabung dengan teman-teman yang shalih dan bermujahadah untuk memerangi hawa nafsunya. Nabi ﷺ bersabda,

وَ اْلمُجاَهِدُ مَنْ جاَهَدَ نَفْسَهُ

Dan (termasuk) mujahid adalah orang yang memerangi hawa nafsunya.” (HR Ibnu Majah dan an-Nasaa’i dengan sanad yang baik)

Untuk meraih peringkat itu hendaknya dia juga berdoa seperti yang diajarkan oleh Nabi ﷺ,

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

Ya Allah, karuniakanlah bagi jiwaku, ketakwaan dan kesuciannya, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikan jiwa, Engkaulan Pelindung dan Penolongnya.” (HR. Muslim).

Pencapaian Tertinggi Seorang Muslim

Derajat dan kesuksesan manusia yang paling spektakuler adalah ketika hawa nafsu tunduk dan takluk oleh akal yang dibimbing oleh wahyu. Sehingga dia berjalan di atas kebenaran, dalam bingkai syariat dan teguh di jalan istiqamah. Derajatnya bahkan melampaui kedudukan para malaikat. Karena malaikat hanya memiliki akal, tanpa disertai syahwat, namun diberi akal, maka wajar jika mereka tidak bermaksiat. Seperti berjalan tanpa rintangan.

Berbeda halnya dengan manusia, meski hawa nafsu menantang di tengah jalan, mereka mampu melampauinya, mengalahkan nafsu dan menjadikannya tunduk dalam keimanan dan keshalihan. Inilah yang disebut dengan khairul bariyyah, sebaik-baik ciptaan. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَـٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (QS. al-Bayyinah:7).

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan juga ulama yang lain berdalil dengan ayat ini ketika menyatakan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih lebih utama dari para malaikat, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat ini. Karakter ini tidak akan dicapai kecuali jika dia berhasil memerangi hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan.

Balasan Bagi yang Menundukan Nafsunya

Maka Allah menjanjikan jannah bagi orang yang memerangi hawa nafsunya, mencegahnya dari maksiat lantaran takut akan suatu hari di mana manusia berdiri di hadapan Allah,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Sesungguhnya jannahlah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Nazi’at 40-41).

Bahkan mereka akan mendapatkan dua jannah, sebagaiamana yang dirinci dalam ayat yang lain,

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya baginya dua jannah.” (QS. Ar-Rahman: 46).

Mujahid dan Ibrahim an-Nakha’i rahimahumullah berkata, “Dia adalah seseorang yang didorong hawa nafsunya untuk berbuat maksiat kemudian dia mengingat Allah maka dia tinggalkan maksiat tersebut karena rasa takutnya kepada-Nya.”

Nafsu Ibarat Hewan Buas

Bisa dikatakan, nafsu ibarat hewan beringas dan nakal. Untuk menjinakkannya, menjadikan hewan itu lapar dan payah merupakan pilihan strategi yang efektif. Selama proses penundukkan itu, nafsu mesti disibukkan dengan hal-hal positif agar semakin jinak dan tidak buas.

Untuk menjernihkan rohani, Syekh Abu Hasan Al-Azzaz rahimahullah pernah mengingatkan tiga hal, yakni tidak makan kecuali di waktu sangat lapar, tidak tidur kecuali sangat kantuk, dan tidak berbicara kecuali bila sangat perlu.

Kekayaan, makanan, dan tidur adalah tiga hal yang sangat akrab dengan keseharian kita. Saking akrabnya kadang kita tak merasakan ada masalah dalam tiga hal ini. Padahal karena statusnya yang mubah, kerap kali kita mengumbar begitu saja keinginan-keinginan kita hingga terlena bahwa apa yang kita lakukan sama seperti menumpuk-numpuk kabut pekat dalam hati kita.

Lama-lama kalbu kita pun semakin gelap, sehingga mudah sekali dikuasai nafsu buruk yang sudah dicegah. Semoga kita dikaruniai kekuatan untuk senantiasa bertobat, terbuai dengan kenikmatan yang fana, sadar akan kewajiban sebagai hamba, dan kelak meraih kebahagiaan hakiki berjumpa dengan Allah Ta’ala.  Aamiin. Wallahu a‘lam bish shawab.

Designed by Mitramuslim