Cinta seseorang kepada akhirat tidak akan terwujud sampai ia mampu menata hatinya untuk bersikap zuhud (merasa cukup dengan pemberian Allah) tentang dunia. Sedangkan zuhud terhadap dunia tidak akan tercapai sampai seseorang menata hatinya untuk mampu memandang tentang dunia dan akhirat dengan cara pandang yang benar.
Dunia adalah sesuatu yang mudah hilang, lenyap dan musnah. Dunia adalah sesuatu yang kurang, tidak sempurna dan hina. Dunia adalah sesutu yang sangat menyakitkan. Dunia adalah tempat kesedihan, keletihan, kepayahan, kesusahan dan kesengsaraan. Akhir dari semua masalah duniawi adalah kefanaan yang diikuti dengan penyesalan dan kesedihan.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى.
“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal : kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, kelelahan (keletihan) yang berkelanjutan, dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.” (Ighatsatul Lahafan, [I/87-88] dan lihat Mawaridul Aman al-Muntaqa min Ighatsatil Lahafan, hlm. 83-84).
Akhirat adalah sesuatu yang pasti datang, kekal dan abadi. Akhirat adalah tempat kembali setelah kematian. Kebahagiaan yang terdapat di akhirat sangatlah mulia. Kesengsaraan yang terdapat di akhirat sangat tersiksa. Allah Ta’ala berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 17).
Cinta Dunia Pangkal Semua Dosa
Mengingatkan tentang fitnah dunia adalah bukti perhatian terhadap akhirat, itulah sebabnya para ulama salaf dahulu sering mewanti-wanti tentang dunia agar tidak terfitnah dengannya. Jundub bin Abdullah Al-Bajali mengatakan:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ
“Cinta dunia adalah pangkal dari semua kesalahan.” (Jami`ul `Ulum wal Hikam, jilid 3 hlm. 203).
Berebut kekuasaan, berebut harta dan kekayaan, berebut popularitas, hasad, iri, sombong, memakan yang haram, melakukan kecurangan, hilangnya amanah, semuanya diawali dari kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.
Mengapa cinta dunia mampu merusak agama seseorang bahkan menjadi sumber segala kesalahan? Hal tersebut dikarenakan mencintai dunia berarti mengagungkan dunia. Padahal dunia sangat hina di sisi Allah, bagaimana mungkin agama seseorang tidak rusak ketika di saat yang sama ia mengagungkan apa yang Allah Ta’ala hinakan.
Selain itu, mencintai dunia berarti memuji dunia. Padahal dunia ini dilaknat di sisi Allah, bagaimana mungkin agama seseorang tidak rusak ketika di saat yang sama ia memuji apa yang Allah laknat (cela).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (Riwayat At-Tirmidzi no. 2322).
Mencintai dunia juga berarti menjadikan dunia sebagai tujuan. Padahal dunia ini mestinya menjadi wasilah menuju Allah dengan memanfaatkannya memperbanyak amal shalih, bagaimana mungkin agama seseorang tidak rusak ketika di saat yang sama ia menjadikan pusat pikirannya adalah dunia, cita-cita terbesarnya adalah dunia, padahal setiap detiknya ia sedang menuju kepada kampung akhiratnya.
Mencintai dunia berarti menceburkan dirinya ke dalam siksa, yaitu: tamak, berebut dengan sesama pecinta dunia, diadzab jika sampai melalaikannya dari ketaatan kepada Allah. Mencintai dunia berarti memalingkan diri dari tujuan penciptaan dirinya, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata.
Nasehat terakhir, para Shahabat Nabi sangking cintanya terhadap ahirat sampai Allah ingatkan:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash: 77).
Apalagi kita yang cinta dunia, tentu lebih layak untuk saling mengingatkan “Jangan lupa, akhirat adalah tujuan utama.”
Dunia Sementara, Akhirat Selamanya
Kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.
Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,
هَبْ الدُنْيَا فِي يَدَيْكَ ، وَمِثْلُهَا ضُمْ إِلَيْكَ ، وَهَبْ المَشْرِقَ وَالْمَغْرِبَ يَجِيءُ إِلَيْكَ ، فَإِذَا جَاءَكَ الْمَوْتُ، فَمَاذَا فِي يَدَيْكَ
“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” (Siyarul A’lam An-Nubala, 8/330).
Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqmaan: 33).
Allah juga berfirman,
ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).
Allah juga berfirman,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20).
Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena mayoritas harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi bukan kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau koleksi saja.
Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu:
Pertama, Makanan yang kita makan.
Makanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja
Kedua, Pakaian yang kita pakai.
Termasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan
Ketiga, Sedekah.
Ini adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di dunia
Selebihnya harta yang kita tumpuk hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta, rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja. Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan. Memiliki kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat saja.
Inilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tiga. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ
“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?” (HR. Muslim no. 2958).
Riwayat yang lain,
ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ
“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim no. 2959).
Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.
Sebagai penutup, satu sabda nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau bersabda, “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah memberikan kekayaan dalam hatinya, mengumpulkan semua usahanya, dan dia akan dihampiri dunia walaupun dia enggan. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menjadikan kefakiran di depan matanya dan menceraiberaikan usahanya dan tidak dibagikan dunia kepadanya, kecuali yang sudah ditakdirkannya.” (HR At Turmudzi).
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta