Home / Kajian Syar'i / KIAT-KIAT MENUNDUKAN HAWA NAFSU

KIAT-KIAT MENUNDUKAN HAWA NAFSU

Nafsu merupakan bagian dari makhluk Allah. Dengan berbekal nafsu pula manusia dapat menjalankan kehidupannya secara wajar sebagai makhluk hidup yang hidup di alam dunia. Berbagai kebutuhan penting manusia, seperti makan, minum, tidur, menikah, dan lain sebagainya, melibatkan nafsu di dalamnya. Karena itu, secara alamiah nafsu bukanlah hal yang mutlak buruk.

Namun demikian, nafsu memiliki kecederungan-kecenderungan untuk menyimpang. Kerena itu, dalam Islam terkandung anjuran kuat untuk mengendalikan nafsu. Memang manusia tak diperintahkan untuk memusnahkannya, namun nafsu harus memegang kuasa penuh atasnya agar selamat dari jebakan dan godaan-godaannya yang menjerumuskan.

Pilihannya hanya dua, apakah kita menguasai nafsu atau justru dikuasai oleh nafsu. Dua pilihan ini pula yang menentukan apakah kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki atau tidak. Imam Abu Hamid al-Ghazali pernah mengatakan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ûlûmiddîn:

السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ 

“Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuiasai nafsunya.”

Tentu saja, usaha mengendalikan nafsu ini bukan perkejaan yang mudah. Karakter nafsu yang tak tampak dan kerapkali membawa efek kenikmatan menjadikannya sebagai musuh paling sulit untuk diperangi. Rasulullah sendiri mengistilahkan ikhtiar pengendalian nafsu ini dengan “jihad”, yakni jihâdun nafsi.

Sepulang dari perang badar, Nabi ﷺ bersabda, “Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil dan bakal menghadapi pertempuran yang lebih besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, ‘Apakah pertempuran akbar itu, wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘jihad (memerangi) hawa nafsu’.”

Strategi Melemahkan Nafsu

Nafsu menjadi musuh paling berat dan berbahaya karena yang dihadapi adalah diri sendiri. Ia menyelinap ke dalam diri hamba yang lalai, lalu memunculkan perilaku-perilaku tercela, seperti ujub, pamer, iri, meremehkan orang lain, dusta, khianat, memakan penghasilan haram, dan seterusnya. Lantas, bagaimana cara efektif yang bisa kita ikhtiarkan untuk jihâdun nafsi, jihad mengendalikan nafsu ini?

Ada perkataan atau nasihat dari Abu Sulaiman Ad-Daroni. Beliau pernah berkata, “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar.”

Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah menjelaskan bahwa maksud dari perkataan ini adalah Allah memberikan ilmu dan kebijaksanaan (hikmah) pada orang-orang yang berpuasa dan menjadikan kebodohan dan tindak kemaksiatan pada mereka yang kenyang.

Makan kenyang dan nafsu adalah dua komponen yang saling mendukung. Terkait hal ini, menurut Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, hal pertama yang penting dilakukan untuk mengendalikan hawa nafsu adalah melalui puasa.

Nafsu ibarat kayu kering, sementara makanan adalah bahan bakarnya. Api yang menjalar pada kayu itu akan kian berkobar manakala bahan bakar disuplai tanpa batas. Untuk memadamkannya, perlu strategi untuk mengurangi, bahkan menghabiskan, bahan bakar tersebut.

Secara luas, berpuasa juga bisa dimaknai menahan diri dari berbagai keinginan-keinginan yang tak terlalu penting. Meskipun halal, mencegah diri –misalnya- dari keinginan baju baru yang lebih mewah dari yang sudah ada termasuk cara kita untuk menguasai nafsu.

Contoh lainnya, menyisihkan harta untuk membantu orang lain yang butuh ketimbang untuk membeli perhiasan, dan sejenisnya. Sikap-sikap seperti ini dalam jangka panjang akan menjauhkan hati manusia dari sikap tamak, mau menang sendiri, egois, dan lain sebagainya.

Cara kedua untuk menundukkan hawa nafsu sebagaimana tertuang dalam al-Minahus Saniyyah adalah mengurangi tidur. Ini bukan berarti kita begadang dengan ragam kegiatan yang mubazir. Tidur, sebagaimana juga makanan, bisa menjadi sumber yang menutup kejernihan kita dalam menerima cahaya dari Allah Ta’ala.

Mengurangi tidur berarti bergiat bagun menunaikan shalat malam, memperbanyak dzikir, serta bermunajat kepada Allah, dan kegiatan-kegiatan “berat” lainnya. Rasululah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ ، فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ ، وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ ، وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ ، وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ 

“Laksanakanlah qiyamul lail (shalat malam) karena ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, mendekatkan kepada Rabb kalian, menghapus dosa-dosa kalian, dan menjauhkan kalian dari berbuat dosa.” (HR at-Tirmidzi).

Jihad Melawan Hawa Nafsu

Jihad melawan hawa nafsu walaupun tidak seberat jihad melawan orang kafir, namun ia bukan berarti berada di bawahnya. Ada yang pernah berkata pada Al Hasan Al Bashri rahimahullah Ta’ala,

يَا أَبَا سَعِيْدٍ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ

“Wahai Abu Sa’id, jihad apa yang paling afdhol?”

Jawab beliau,

جِهَادُكَ هَوَاكَ

“Jihadmu melawan hawa nafsumu.”

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa beliau mendengar gurunya berkata,

وَالْهَوَى أَصْلُ جِهَادِ الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقَيْنَ فَإِنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى جِهَادِهِمْ حَتَّى يُجَاهِدَ نَفْسَهُ وَهَوَاهُ أَوَّلًا حَتَّى يَخْرُجَ إِلَيْهِمْ

“Hawa nafsu adalah asal dari jihad melawan orang kafir dan orang munafik. Kita tidak mampu berjihad melawan orang kafir dan munafik sampai berjihad terlebih dahulu melawan diri sendiri. Hawa nafsu lebih pertama diperangi lalu keluar jihad melawan mereka.”

Perkataan ini disebutkan dalam Roudhotul Muhibbin, karya Ibnul Qayyim, terbitan Ibnu Katsir, cetakan ketiga, tahun 1429 H, hal. 530. Untuk menjadi pelajaran bagi kita dan seluruh kaum muslimin terkait usaha untuk melawan hawa nafsu.

Kiat-Kiat Dalam Menjinakan Nafsu

Agar bisa terbebas dari perbudakan hawa nafsu, ada beberapa nasehat yang perlu kita camkan yang kami sarikan dari kitab Dzammul Hawa, karya Ibnul Jauzi:

Pertama,

Merenungi tujuan penciptaan. Kita diciptakan bukan sekadar untuk bersenang-senang menuruti hawa nafsu. Ada tugas penghambaan yang berat yang harus dilaksanakan. Sekiranya kita memang diciptakan untuk sekadar menuruti hawa nafsu, Allah tidak akan mencela nafsu dalam al-Quran hingga berulang kali. Alangkah remehnya hidup jika hanya untuk makan, memuaskan kemaluan dan menuruti keinginan.

Kedua,

Memikirkan akibat menuruti hawa nafsu berupa kehinaan-kehinaan yang bakal didapat. Silakan kumpulkan semua perbuatan yang masuk kategori menuruti hawa nafsu, pasti akan kita dapatkan semuanya adalah perbuatan rendah dan merendahkan martabat pelakunya.

Penyair berkata, “Sesungguhnya kata hawan (kehinaan) berasal dari kata hawa tapi terbalik, maka jika menuruti hawa sungguh kamu telah menemui hawan (kehinaan).”

Lihatlah para pejabat yang terjerat dalam perbudakan nafsu oleh pemilik hotel dalam kasus di atas. Jabatan yang semestinya membuat dirinya mulia, tak mampu menghapus kehinaan yang ditimpakan pemilik tempat hiburan.

Lihatlah para pemabuk dan pemakai narkoba, mereka hanya akan dilihat sebagai sampah masyarakat yang tak berguna. Dijauhi dan tidak disukai.

Ketiga,

Membandingkan antara kenikmatan yang didapat dari menuruti nafsu dengan akibat buruk setelahnya. Akan didapati bahwa kesengsaraan akibat menuruti nafsu selalu lebih menyiksa berkali lipat daripada kenikmatan saat menurutinya. Kenikmatan berzina yang paling hanya beberapa menit tentu tidak akan sebanding dengan derita sakit akibat HIV. Rusaknya organ tubuh aibat miras tentu tak sebanding dengan nikmatnya rasa miras dan perasaan mabuk yang juga hanya beberapa saat. Hancurnya rumah tangga tentu akan jauh lebih menyiksa daripada nikmatya selingkuh. Karena setelah rumah tangga hancur, perselingkuhan tidak akan pernah memberikan sakinah mawadah dan rahmah.

Keempat,

Merengungi akibat baik dari memusuhi hawa nafsu. Bersabar sebentar dari godaan hawa nafsu akan memberikan kemuliaan abadi. Kenikmatan meninggalkan nafsu jauh lebih nikmat daripada kenikamatan yang ditawarkan nafsu. Kenikmatan menjalani rumah tangga bahagia yang diridhai Allah tentu jauh lebih nikmat dan menyenagkan daripada kenikmatan zina yang hanya sesaat. Kenikmatan sehat dan bisa menikmati berbagai hal di dunia ini, tentu jauh lebih baik daripada nikmatnya tegukan miras atau mabuknya narkotik. Nikmatnya hidup bebas dari perebutan jabatan tentu jauh lebih luar biasa daripada nikmatnya mendapat jabatan tapi selalu cemas terhadap rival-rivalnya. Nikmatya hidup sederhana dan berkah karena bebas dari riba, tentu jauh lebih enak dibanding hidup bergelimang harta tapi harus pusing memikirkan cicilan bunga.

Kelima,

Memikirkan Allah dan akhirat. Dan inilah iman. Sebuah keyakinan tentang keberadaan dan kekuasaan dari Dzat yang Maha kuasa. Keyakinan bahwa hukuman neraka itu nyata. Persisi seperti yang digambarkan Allah dalam kalam-Nya. Bukan sekadar majaz sebagaimana diyakini ahlul bidah. Kebesaran Allah dan akhirat adalah pertimbangan utama dalam segala hal bagi setiap mukmin. Melangkah atau berhenti, belok kanan atau kiri, terus atau kembali, Allah dan akhirat adalah pemandu utama bagi seorang mukmin.

Semoga Allah menguatkan iman dan hati kita. Menjauhkan kita dari perbuatan mengikuti hawa nafsu karena hal itu hanya akan menimpakan kehinaan dan kebinasaan bagi kita.

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah Ta’ala. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shod: 26).

Keenam,

Di dalam kitab Asbabut Takhallaush Minal Hawa, karangan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah, ada perkataan dari Salafus Shalih, “Jika Anda bimbang menghadapi dua alternatif pilihan keputusan, Anda tidak tahu mana yang paling bahaya, maka tinggalkanlah sesuatu yang paling dekat/disukai hawa nafsumu, karena sikap yang terdekat dengan kesalahan itu ada pada mengikuti hawa nafsu.”

Maksudnya, tidak jarang dikarenakan minimnya ilmu syar’i yang dimiliki seseorang dan kelemahan akal sehatnya, maka di dalam memutuskan suatu perkara, ia menemui kesulitan.

Ia bingung ketika menghadapi dua alternatif pilihan keputusan, mana yang harus diambil, padahal, ia harus mengambil keputusan sekarang juga, tidak ada satupun orang ‘alim yang bisa dihubungi ketika itu. Maka sebagian salaf sudah memberikan resep mudah kepada kita, yaitu  tinggalkanlah sesuatu yang paling dekat dengan hawa nafsumu atau paling disukai hawa nafsumu! Dan pilihlah sebuah keputusan yang terjauh dari hawa nafsumu. Wallahu a’lam.

 

Designed by Mitramuslim