Home / Kajian Utama / KASIH SAYANG YANG TERBUANG

KASIH SAYANG YANG TERBUANG

Ada sebuah ungkapan “Bukti cinta sesungguhnya bukan cokelat tapi akad.” Biasanya ungkapan ini mucul di tanggal 14 februari sebagai sindiran bagi yang merayakan hari kasih sayang. Satu perayaan yang biasa dilakukan oleh para pemuda dan pemudi berupa memadu kasih, menjalin asmara dan mengungkapkan rasa cinta. Mereka mengungkapkan itu semua dengan berbagai cara, saling memberi bunga, cokelat bahkan sampai wal iyadhu billah merenggut keperawanan si wanita sebagai ungkapan cintanya.

Kita tidak sedang berbicara perayaan Valentine’s Day berdasarkan dalil agama. Sudah cukup banyak dijumpai beragam tulisan yang mengupas secara lengkap dari sisi ini. Komplit dengan beragam dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, juga beragam fatwa dari ulama salaf.

Semua itu bermuara pada kesimpulan tentang larangan perayaan Valentine’s Day bagi umat Islam. Namun, apa yang terjadi kemudian adalah tidak sedikit yang kebal terhadap dalil agama. Nasehat hanya tinggal nasihat yang berlalu dan kian terlupakan. Begitulah.

Bukan Hari Kasih Sayang

Istilah yang seringkali digunakan memang sangatlah indah, Valentine’s Day yang dimaknai Hari Kasih Sayang. Namun, apakah realitanya demikian?

Pada hakikatnya cinta di hari valentine adalah cinta semu. Karena konsekuensi dari cinta adalah cinta karena iman. Semakin orang lain itu beriman, maka semakin ia dicintai. Semakin ia gemar dalam maksiat, semakin berkurang kecintaan padanya. Cinta pada hari valentine tidaklah demikian.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada dalam diri seseorang kebaikan dan kejelekan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunnah serta bid’ah, maka kecintaan padanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Begitu juga ia pantas untuk dibenci karena kejelekan yang ada padanya.” (Majmu’ Al-Fatawa, 28: 209).

Kecintaan di hari valentine sejatinya adalah cinta didasarkan hawa nafsu. Kenyataannya, kasih sayang yang ada bukanlah dari pasangan yang legal. Namun timbul dari pasangan yang belum ada status yang sah. Jadinya, yang ada hanyalah cinta berdasarkan hawa nafsu. Cinta tersebut pun adalah perantara menuju zina yang termasuk dosa besar. Padahal Allah telah memeringatkan,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro’: 32).

Hawa Nafsu yang Berbungkus Cinta Semu

Sesuatu yang tampaknya mulai dilupakan, bahwa istilah kasih sayang kerap kali hanya dijadikan sebagai penghias di ucapan. Bibir memang selalu berkata ‘kasih sayang’, namun itu hanya sebagai kata pembuka. Selanjutnya syahwat-lah yang sepenuhnya mengendalikan.

Momen Valentine’s Day kerap kali tidak lebih daripada hari untuk memuaskan syahwat semata. Seks bebas, meneguk miras, hingga berpesta narkoba seakan menjadi menu utama yang dijadikan pilihan dalam rangka perayaan Hari Valentine. Semua itu sekali lagi dilakukan atas nama kasih sayang dan cinta. Kasih sayang palsu dan cinta semu tepatnya.

Terlalu banyak fakta yang ada di sekitar kita. Kalau pun berdalih bahwa itu hanya oknum tertentu semata, ada saatnya bagi yang tetap nekat mendekati Valentine’s Day ini siap-siap menjadi oknum selanjutnya. Ibarat bermain di antara kobaran api, pelan namun pasti api pasti akan membakar segala yang ada di dekatnya.

Mungkin saat ini kita masih terlindungi, namun siapa mengira saat kita mulai terlena, kita tidak akan terjerumus kepada hal yang serupa. Karena setan jauh lebih cerdas daripada apa yang kita bayangkan.

Masa depan kita, sebagai remaja, terlalu berharga jikalau hanya untuk ditukarkan dengan perayaan tanpa makna seperti itu. Kalau pun katakanlah demi kesenangan, ingatlah bahwa kesenangan yang sesaat tersebut akan berbuah rasa sesal yang berkepanjangan.

Hari Pengkultusan atau Kasih Sayang?

Sebenarnya kalau kita mau melihat lebih jauh akar sejarah kemunculan perayaan Valentine’s Day, tidak bisa terlepas sebagai bentuk pengkultusan terhadap seorang pendeta. Tanggal 14 Februari adalah hari untuk memperingati kematian Santo Valentinus, seorang pendeta yang dihukum mati oleh Kaisar Romawi Cladius II pada tahun 269 M. Ia dihukum mati karena melanggar kebijakan Kaisar yang berlaku saat itu.

Kebijakan yang diberlakukan kerajaan ialah mempersiapkan generasi pemuda untuk dijadikan pasukan perang. Semua pemuda sementara waktu dilarang untuk menikah. Agar tenaga pemuda sepenuhnya bisa difokuskan ke medan peperangan. Namun, Santo Valentine melanggar kebijakan Kaisar. Ia menikahkan pasangan muda-mudi, yang kemudian dengan alasan inilah ia dihukum mati.

Setelah berlalunya waktu, untuk memperingati hari kematian Valentine sebagai tokoh penyebar cinta dan damai, maka dibuatlah sebuah perayaan. Mereka membuat sebuah perkumpulan massa, lalu menulis nama-nama wanita yang telah memasuki umur nikah pada lembar kertas, lalu digulung. Kemudian dipanggil seorang pemuda untuk mengambil satu kertas dan membukanya.

Nama wanita yang tertulis dikertas tersebut akan menjadi pasangannya selama setahun, andai setelah satu tahun hidup bersama tanpa nikah mereka merasa serasi mereka melanjutkannya dengan pernikahan. Andai tidak ada keserasian maka pada hari valentine tahun mendatang mereka berpisah.

Perayaan ini ditentang oleh para tokoh agama saat itu dan mereka mengeluarkan larangan memperingatinya karena dianggap merusak akhlak para pemuda dan pemudi. Tidak ada informasi yang jelas tentang siapa yang menghidupkan kembali tradisi ini. Beberapa cerita mengungkapkan bahwa di Inggris orang-orang memperingatinya sejak abad XV M.

Dengan demikian, perayaan tersebut sebenarnya tidak lain hanyalah merupakan bentuk perayaan mengenang jasa dari Santo Valentine. Dengan merayakan hari Valentine, secara tidak langsung berarti kita turut memuja Santo Valentine. Tidak lain karena ia seorang yang kafir, makna ‘kasih sayang’ atau pun ‘pengorbanan’-nya tak seberapa nilainya. Jika dibandingkan kasih sayang kedua orang tua kepada anak-anaknya, itu sama sekali tak seberapa.

Sikap Seorang Muslim Terhadap Hari Valentine

Dari asal-usulnya kita ketahui bahwa perayaan hari valentine adalah suatu upacara suci orang-orang Romawi yang Animis sebagai ungkapan cinta kepada orang yang mereka kagumi.

Tradisi ini adalah tradisi syirik tak ubahnya bagaikan ritual orang-orang Arab penyembah berhala mengungkapkan cinta kepada berhala yang berada di sekeliling Ka’bah dengan cara mengelilinginya dalam keadaan telanjang tanpa memakai sehelai benangpun.

Sebagaimana perayaan kematian Valentine adalah sebagai lambang penebar cinta dan damai, akan tetapi itu cuma slogan karena prosesi perayaannya tak lebih dari kesempatan mencari pasangan haram untuk setahun kedepan bagaikan kucing yang mencari pasangannya untuk musim kawin di bulan Februari.

Hal ini bertentangan dengan ajaran Kristen sehingga para pendeta melarangnya. Wahai umat islam sadarlah! Perayaan valentine adalah ‘bid’ah’ dalam agama Kristen dan dilarang untuk dirayakan pada awal masanya oleh para pendeta. Kenapa anda mau menghidupkannya kembali? Sungguh para pendeta tersebut lebih berakal daripada orang yang mengaku Islam akan tetapi ikut merayakannya.

Kasih Sayang Dalam Islam

Islam melarang perayaan Valentine’s Day bukan berarti Islam tidak mengenal kasih sayang. Dalam banyak hal, justru Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa berlaku kasih sayang. Dalam cakupan yang lebih luas, bentuk dari pada kasih sayang pun beragam. Tidak hanya kasih sayang antar sesama manusia, namun juga kasih sayang kepada segala makhluk ciptaan Allah Ta’ala lainnya.

Dan ini jelas tidak hanya berlaku pada tanggal 14 Februari, melainkan untuk setiap hari dan kesempatan. Kasih sayang yang murni, tulus, dan jauh dari kendali nafsu. Kasih sayang yang ‘halal’ karena tidak melanggar aturan syariat. Hasilnya, kasih sayang akan berbuah keberkahan. Sangat jauh berbeda dengan perayaan hari kasih sayang saat Valentine, yang sarat kemaksiatan dan kenistaan. Karena perayaannya dihiasi dengan penuh dosa, maka yang tersisa hanya tinggal keburukannya.

Bagi umat Islam, setiap hari adalah hari kasih sayang. Tidak ada bedanya apakah tanggal 14 atau 29, bulan Februari atau Mei. Jadi, sangatlah tidak layak jika kemudian umat Islam turut serta merayakan Valentine’s Day. Selain karena budaya itu bukan berasal dari Islam, hari kasih sayang Valentine’s Day juga sangatlah bertentangan oleh logika kita.

Bagaimana mungkin ‘kasih sayang’ hanya dirayakan sekali dalam setahun? Kalau hari kasih sayang hanya dirayakan sekali pada 14 Februari, lantas bagaimana dengan 364 hari yang tersisa dalam setahun?

Sama sekali tidak ada alasan yang masuk akal bagi umat Islam untuk ikut-ikutan merayakan hari Valentine. Selain jelas hukumnya haram berdasarkan dalil agama, penilaian secara pertimbangan akal dengan asas manfaat-madharat pun jelas tak berimbang. Terlalu berlimpah keburukan yang ditimbulkannya, tidak sebanding dengan sedikitnya kebaikan yang akan didapatkan dari perayaan Valentine’s Day.

Pun sebagai umat Islam, sudah selayaknya bisa lebih peduli terhadap sesama. Utamanya kepada sesiapa yang ada di sekitar kita; saudara, tetangga, kerabat, juga sahabat. Pengetahuan yang kita miliki jangan hanya untuk diri sendiri. Sampaikan beberapa ucap nasehat dengan bijak agar mereka yang ada di sekitar kita bisa terhindar dari jerat mematikan perayaan Valentine’s Day.

Sebagai penutup tulisan, pesan daripada firman Allah Ta’ala ini layak diperhatikan,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadis Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, saling berkorban karena Aku, dan yang saling mengunjungi karena Aku.” (HR. Ahmad). Wallahu a’lam.

Designed by Mitramuslim