Ia adalah seorang shahabat Rasulullah yang bernama Martsad al-Ghanawi. Ia adalah seorang lelaki yang telah diberikan kekuatan oleh Allah ke dalam tubuhnya, keberanian di dalam hatinya, serta kehebatan yang ada di dalam dirinya. Dia diutus Nabi menuju Mekah untuk membebaskan para shahabat yang disandera oleh kafir Quraisy. Sehingga, mereka bisa menyusul ke Madinah.
Martsad pun melaksanakan perintah Nabi. Dikisahkan ketika menuju Mekah, dia berjalan di bawah naungan rembulan yang sangat terang. Ia berusaha untuk berjalan berdempetan dengan tembok, supaya cahaya bulan tidak mengenainya. Sehingga, orang-orang musyrik Mekah tidak melihatnya.
Karena bisa saja ketika dia bertemu dengan orang-orang musyrik Mekah, dia akan ditanya tentang alasan datang ke Mekah dan lain sebagainya. Intinya, Martsad ingin bertemu dengan salah seorang shahabat dan dia berusaha mengirimkan surat yang isinya supaya shahabat tersebut menunggunya pada waktu dan tempat tertentu, sehingga dia akan datang menemuinya.
Bertemu Cinta Lama
Di tengah perjalanan, ada seorang wanita yang melihatnya berjalan. Wanita tersebut tiada lain adalah orang yang dulu pernah menjalin cinta dengannya sebelum datangnya Islam. Namun setelah Islam datang, dia memiliki batasan-batasan syariat yang melarang dirinya berhubungan dengannya.
Ketika wanita tersebut melihatnya, dia berkata, “Siapa itu, Martsad kah?” Setelah mendengarnya, Martsad pun mencoba mengingat suara yang ia dengarkan. Lalu ia berkata, “Apakah Engkau adalah ‘Anaq?”
Wanita tersebut berkata, “Selamat datang wahai Martsad! Datang dan menginaplah di rumahku malam ini!” Maksudnya, dia mengajak tidur bersama sebagaimana yang dahulu pernah dilakukan berdua pada masa jahiliyah. Marstad menjawab, “Wahai ‘Anaq, sesungguhnya Allah telah melarang zina.” Martsad menjelaskan bahwa kondisinya sekarang berbeda dengan dahulu sebelum datangnya Islam.
Wanita tersebut berkata, “Wahai Martsad, kamu harus melakukannya. Jika tidak, aku akan berteriak supaya orang-orang Quraisy mendengarnya. Engkau bersembunyi di bawah naungan rembulan, sekarang tidak ada lagi naungan rembulan itu. Aku akan berteriak, dan aku akan mengatakan, ‘Wahai Quraisy, sungguh lelaki ini ingin membebaskan para sandera kalian.”
Keimanan Tak Goyah
Martsad berkata, “Janganlah Engkau lakukan hal itu!” Wanita tersebut berkata, “Baik, kalau begitu menginaplah Kamu di rumahku malam ini.” Martsad berkata, “Aku tidak akan menginap. Demi Allah, Sungguh Allah telah melarang zina.” Maka, ‘Anaq pun berteriak, “Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya lelaki ini ingin membebaskan para sandera kalian.”
Orang-orang pun keluar dan berusaha untuk mencarinya. Namun, Martsad senantiasa mencari tempat di bawah bayangan bulan, supaya orang-orang tidak melihatnya. Dalam keadaan seperti itu, dia menemukan ada sebuah pintu di tembok yang dapat menghubungkan dia masuk menuju ke sebuah kebun. Dia berkata, “Aku pun sembunyi, sebagaimana seekor musang bersembunyi. Dan aku pun memasuki kebun tersebut dalam keadaan bersembunyi pula.”
Martsad berkata, “Mereka pun mengarahkan pandangannya ke segala arah, tapi mereka tidak melihatku. Ketika orang-orang mulai bubar, aku pun keluar dari tempat tersebut dan langsung menuju shahabat yang sudah aku rencanakan untuk aku bawa. Namun, Karena shahabatku tersebut dalam kondisi diikat, aku pun pergi membawanya dalam keadaan demikian. Hingga ketika aku sudah melewati rumah orang-orang Quraisy, aku pun mendudukkannya, kemudian melepas ikatannya, selanjutnya pergi bersamanya menuju Madinah.”
Totalitas Dalam Berhijrah
Martsad sampai ke Madinah setelah berjalan dengan sembunyi-sembunyi di bawah naungan rembulan di kota Mekah. Akan tetapi, pandangan yang ia lemparkan ke arah ‘Anaq masih membekas di pikirannya sampai ketika dia pulang. Lelaki ini memang memiliki hubungan dengannya pada masa Jahiliyah. Ada cinta di antara mereka, rasa saling mengasihi, serta mereka berdua merasakan malam-malamnya dengan penuh ‘kelembutan’.
Benar, dia telah masuk Islam. Akan tapi, dia hanyalah manusia biasa. Akhirnya, ia pun pergi menuju Rasulullah dan menyerahkan shahabat yang dibebaskannya, sehingga ia bisa kembali kepada keluarganya.
Martsad mengatakan kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, Aku pergi ke Mekah dengan cara bersembunyi di bawah naungan rembulan, dan telah terjadi padaku demikian dan demikian. Wahai Rasulullah, bolehkah aku menikahi ‘Anaq?” Nabi pun menjawab, “Wahai Martsad, sunggguh Allah telah mengharamkan zina.” Martsad berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku menikahinya?”
Allah pun menurunkan ayat di permulaan surat An-Nur. Allah berfirman, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nûr: 3).
Maka Nabi membacakan ayat tersebut di hadapan Martsad, kemudian Martsad pun menerimanya. Sebab, selama Allah mengharamkannya perasaan, cinta, dan kerinduan yang ada dalam hatinya, maka semua perasaan tersebut akan ia hilangkan.
*Referensi: Syaikh al-Arify, Kisah-Kisah Inspiratif, (Solo: Aqwam, 2017)
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta