Home / Tafsir / Tidak Asal Bicara

Tidak Asal Bicara

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Tafsir Ayat

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari firman Allah swt:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Ada yang berpendapat maksudnya adalah “jangan mengatakan sesuatu yang tidak diketahui”, sebagaimana yang diutarakan oleh Qotadah. Diriwayatkan bahwa Ibnu Hanfiyah mengatakan maksudnya adalah syahadatul Zuur (persaksian palsu)

Sedangkan Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan bahwa maksudnya adalah jangan menuduh orang lain dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui.

Imam at Thabari mengomentari dua pendapat tersebut dengan mengatakan “Dua pendapat tersebut secara makna hampir sama, karena syahadatu zuur, menuduh seseorang dengan sesuatu yang bathil, mengku mendengar padahal belum mendengan dan mengaku melihat padahal belum melihat, masuk kedalam katagori mengatakan sesuatu yang belum diketui” (Tafsir At Thobari, syamela 17/447)

Imam Al Qurthubi mengatakan “Jangan mengikuti apa yang tidak kamu ketahui dan tidak penting bagimu. (Jamiul Ahkamul Qur’an, darul Kutub misriyah, 10/257

sedangkan firman Allah swt

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Ibnu Katsir menafsirkan “Seorang hamba kelak akan dimintai pertanggungan jawab mengenai hal itu pada hari Kiamat serta apa yang telah dilakukan dengan semua anggota tubuh tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir,  Syamela 5/75)

Himah ayat diatas adalah memberikan batasan-batasan syar’I. Yaitu langan mengikuti perkataan atau perbuatan yang tidak ada ilmu didalamnya. Karena, kerusakan dimuka bumi kebanyakan diakibatkan hal tersebut. Bahkan Allah swt melarang kita mengatakan sesuatu yang berdasarkan dzan (prasangka belaka.)

Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. (Al Hujrat :12)

Jangan Asal Share berita

Terlalu aktif dalam menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, apalagi berita hoax, merupakan salah satu yang di benci Allah swt. Dalam hadis, dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: menyebarkan berita burung (katanya-katanya), menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya. (HR. Bukhari & Muslim)

Jika pada zaman Rasulullah saw penyebaran berita kebanyakan melalui mulut kemulut, namun pada hari ini berbeda, penyebaran berita lebih banyak dengan tulisan. Terlebih dengan maraknya jejaring sosial, seperti facebook, whatsap, twitter dan lain sebaginya, memungkinkan seseorang menyebarkan berita hanya dengan sekali pencet. Padahal ia belum tahu kebenaran berita tersebut.

Maka dari itu, seorang muslim hendaknya selektif dalam mememilih dan mengeshare sebuah berita. Ia harus memastikan terlebih dahulu kebenarannya. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda :

كَفَى بِالمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يَحْدَثُ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatang pembohong apabila menyebarkan setiap apa yang ia dengar”  (HR Muslim

Oleh karena itu sebelum menyebarkan berita, pastikan kebenarannya. Mari kita hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Karena menyebarkan berita bukanlah sebuah prestasi. Prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Jika terlanjur menyebarkan

Kadang kala,  seseorang membaca sebuah berita atupun tulisan dari teman kemudian langsung disebarkan ke forum atau teman yang lain. Ia tidak tahu bahwa berita tersebut hoax atau kebohongan. Pengetahuan tersebut datang setelah diingat temannya. Lalu apa yang harus ia kerjakan?

Dalam hal ini ada dua perkara yang harus diperhatikan.

Pertama: orang yang melakukan kesalahan tanpa disengaja, maka tidak ada dosa baginya, antara dia dengan Allah. Allah berfirman,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Tidak ada dosa bagimu terhadap kesalahan yang kalian lakukan tanpa sengaja, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. (QS. al-Ahzab: 5).

Namun jika itu merugikan hak orang lain, maka dia bertanggung jawab atas kerugian itu.

Kedua, ketika sudah tersebar di forum, berikan penjelasan di forum yang sama bahwa berita itu dusta. Agar anda bisa lepas dari tanggung jawab.

Hal ini sebagaimana mereka yang pernah menyebarkan kesesatan, kemudian bertaubat, dia berkewajiban untuk menjelaskan kepada masyarakatnya, tentang kesesatan yang pernah dia ajarkan.

Beberapa ulama yang bertaubat dari kesesatan, kemudian mereka mengarang buku  yang membatah pendapat lamanya. Diantaranya Abul Hasan al-Asy’ari. Setelah beliau taubat dari aqidah Kullabiyah, beliau menulis beberapa buku sebagai bantahan untuk aqidah beliau yang lama. Seperti al-Ibanah ‘an ushul diyanah, dan maqalat islamiyin.

Allah menjelaskan,

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 160).

Penyebab seseorang masuk kedalam neraka

Lisan merupakan penentu baik buruknya seseorang. Barang siapa yang mampu menjaga lisan ia selamat, baik di dunia maupun diakherat. Kebalikannya, barang siapa yang tidak mampu menjaganya ia akan sengsara. Ada sebuah hadits yang cukup pangjang, dimana  Rasulullah saw di tanya shahabat tetang amalan apa saja yang dapat mendekat seorang hamba ke jannah dan menjauhkan dari neraka. Setelah menyebutkan amalan-amalan tersebut Rasulullah saw bersabda;

أَلا أُخبِرُكَ بِملاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَارَسُولَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ يَانَبِيَّ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَامُعَاذُ. وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَو قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلسِنَتِهِمْ

“Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?” (HR. Tirmidzi, ia berkata : “Hadits ini hasan shahih)

Mari kita jaga anggota tubuh kita yang tidak bertulang ini, yakni lidah dan kebiasan kita asal share. Semoga dengannya kita selamat dunia dan akherat. Wallahua’lam (mks)

Designed by Mitramuslim