Perbuatan yang dianggap tidak biasa di awalnya, akan menjadi biasa ketika rutin dan dilakukan secara terus menerus. Seperti budaya barat yang dulu dianggap asing oleh penduduk negeri ini, sekarang menjadi hal yang biasa. Atau seperti falsafah toilet, ketika seseorang memasuki toilet, pertama kali ada rasa menolak dari dirinya, namun karena harus masuk, terpaksalah dia masuk walaupun harus dengan menahan nafas dari aroma tak sedap. Tetapi beberapa saat kemudian dia sudah biasa dengan aroma dalam toilet tersebut.
Dusta adalah perbuatan tercela yang dilarang dalam agama sekaligus mendapat ancaman keras dari Allah dan rasul Nya. Namun banyak orang yang meremehkan dusta karena menganggap perkara sepele, tidak membahayakan bagi dirinya. Padahal disisi Allah Subhanahu wata’ala itu adalah perkara yang besar.
وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّـهِ عَظِيمٌ
“Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Qs. An-Nur : 15)
Budaya dusta ini kemudian diperparah dengan adanya dukungan media, baik media cetak ataupun media audio visual, yang menyiarkan program dengan nuansa dusta yang dibungkus program acara hiburan. Kondisi seperti ini mengingatkan kita kepada sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ, يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ, وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا اْلأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ . قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قال: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِيْ أَمْرِ العَامَّةِ
“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”. [HR. Ibnu Majah dalam Kitab Al-Fitan no. 4036]
Dusta dalam canda
Bercanda memang sebuah aktivitas yang paling menyenangkan ketika sedang berkumpul dengan teman. Tanpa canda, obrolan terasa hambar, kering, membosankan dan tidak mengasyikkan. Bahkan ketika asyik bercanda, waktu panjangpun tidak terasa. Namun perlu dipahami bahwa salah satu aktivitas yang banyak memberikan peluang berdusta adalah ketika kita bercanda bersama teman atau kolega. Memang suasana akan terasa lebih segar ketika ada candaan dalam obrolan kita. Sadarkah kita bahwa ternyata Rasulullah telah mengingatkan dalam sabdanya;
لا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الإِيمَانَ كُلَّهُ ، حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحِ وَالْمِرَاءَ ، وَإِنْ كَانَ صَادِقًا
“ Tidak sempurna iman seorang hamba sampai dia meninggalkan berdusta dalam gurauan dan meninggalkan perdebatan walaupun dia dalam posisi benar.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).
Dusta, baik ia diucapkan sekedar untuk bercanda atau serius hukumnya sama yaitu haram. Seseorang yang berbicara dusta agar orang lain tertawa juga dilarang oleh Rasulullah. Tentang hal ini Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda;
ولا يَصْلُحُ الكَذِبُ في جِدٍّ ولا هَزْلٍ
“Dusta itu tidak diperbolehkan baik dalam keadaan serius maupun bercanda.” (HR. Ibnu Abi Syaibah
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ القَوْمَ ثم يَكْذِبُ لِيُضْحِكَهُم وَيْلٌ لَهُ ووَيْلٌ لهُ
“Celakalah orang yang berbicara kepada suatu kaum lalu ia berdusta agar mereka tertawa, celakalah dia dan celakalah dia.” (HR. Ahmad)
Abdurrahman bin Abu Laila menceritakan bahwa pada suatu ketika Rasulullah bersama beberapa orang sahabat dalam suatu perjalanan. Lalu tertidurlah salah seorang dari mereka. Kemudian salah seorang dari para sahabat itu mendekati orang yang tidur dan mengambil anak panahnya sehingga membuatnya terbangun dan kaget. Para sahabat lainnya pun tertawa. Melihat hal itu, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda;
لا يحلُّ لمسلمٍ أنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim lainnya.” (HR. Ahmad)
Sebagai panutan, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berkata berkata benar (jujur) walaupun dalam kondisi sedang bercanda. Seperti tertera dalam kisah dari Hasan radhiyallahu’anhu.
أتَتْ عَجُوْزٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! اُدْعُ اللهَ أَنْ يُدْخِلُنِي الجَنَّةَ .فَقَالَ : ” ياَ أُمَّ فُلاَن ! إِنَّ الجَنَّةَ لاَ تَدْخُلُهَا عَجُوْزٌ ” . قَالَ : فَوَلَّتْ تَبْكِي . فَقَالَ : “أَخْبِرُوْهَا أَنَّهَا لاَ تَدْخُلُهَا وَ هِيَ عَجُوْزٌ ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْل : إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً () فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا () عُرُبًا أَتْرَابًا ()
“ Seorang wanita tua datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke dalam surga’. Maka Rasulullah menjawab, ‘Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh orang yang renta.’ Hasan melanjutkan, “Maka wanita itu berbalik pergi sambil menangis, kemudian Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda, ‘Beritahukan kepadanya kalau dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua renta. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),“Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.’” (Al-Waqi’ah: 35-37)” (HR. At-Tirmidzi).
Menabur dusta menuai dosa
Walaupun masuk dalam kategori dosa kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dusta merupakan perbuatan yang merugikan. Karena dosa kecil akibat dusta, bila tidak segera dihapus dengan taubat, ia akan mengumpul dan membesar. Seperti bukit yang yang menjulang tinggi, ia terbentuk dari butiran-butiran debu yang sangat kecil. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda;
إِيَّاكُمْ وَمَحَقَّرِاتِ الذُنوبِ فَإنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى حَمَلُوا مَا أَنْضَجُوا بِهِ خُبْزَهُم وَإنَّ مُحَقِّرَاتِ الذُنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, karena perumapamaan dosa-dosa kecil itu seperti kaum yang tinggal di perut lembah. Setiap kaum membawa sepotong kayu, hingga mereka bisa memasak roti, sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap ringan saat hukumannya ditimpakan kepada pemiliknya akan membinasakannya.” [HR. Ahmad dan Ath-Thabrani]
Hadits diatas menunjukkan bahwa dosa-dosa kecil bila sudah menjadi kebiasaan akan menjadi jembatan menuju perbuatan dosa-dosa besar. Banyak orang yang berbuat dosa-dosa kecil yang ia anggap sepele namun dosa-dosa kecil yang ia perbuat malah menuntunnya kepada dosa-dosa besar bahkan kepada kekufuran. Seorang ulama salaf pernah mengingatkan;
الْمَعَاصِيْ بَرِيْدُ الْكُفْرِ كَمَا أَنَّ الحُمَى بَرِيْدُ الموْتِ
“Maksiat itu pengantar kepada kekufuran sebagaimana demam itu pengantar kepada kematian.”
Adapun dusta bila menyebabkan madharat kepada seorang muslim maka itu termasuk dalam kategori dosa besar. Diantara dosa besar dari dusta yang paling keji adalah berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam, baik dalam perkara-perkara hukum maupun perkara-perkara yang tidak terkait hukum seperti nasehat, targhib (motivasi berbuat baik) maupun tarhib (ancaman untuk berbuat dosa) maka ia dihukumi dosa besar berdasar kesepakatan para ulama’. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda;
إِنَّ كَذِبًا عَليَّ لَيسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَد، فَمَنْ كَذَبَ عَليَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama (dosanya) seperti dusta kepada salah seorang dari kalian. Maka barangsiapa yang berdusta kepadaku, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka!.” (HR. Bukhari & Muslim)
Akibat Dusta
Peringatan keras dari Allah dan rasul Nya terhadap dusta mengisyaratkan bahwa perbuatan ini membawa banyak madharat bagi manusia. Diantaranya:
Pertama : Menyebabkan keraguan, kebimbangan dan keresahan di tengah masyarakat. Hal ini wajar mengingat Rasulpun telah menyatakan dalam sabdanya;
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Tinggalkanlah apa-apa yang membuatmu ragu dan ambil apa-apa yang tidak meragukanmu, karena sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keresahan”( HR. Tirmidzi dan Ahmad )
Kedua : Terjerumusnya seseorang ke dalam salah satu tanda munafiq. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat hal, barangsiapa yang memiliki semuanya, maka dia munafik sejati. Dan barangsiapa memiliki salah satu diantaranya berarti dia mempunyai satu jenis sifat munafik hingga dia meninggalkannya. Yaitu apabila diberi amanat dia khianat, bila berkata dia dusta, bila berjanji dia mengingkari, jika berselisih dia berkata kotor.” [Mutafaq ‘alaihi]
Ketiga : akan menggelincirkan pelakunya ke jurang neraka. Rasulullah bersabda;
اِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَاِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ الْفُجُوْرِ وَاِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى الى النَّارِ وَمَايَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرِّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَاللهِ كَذَّابًا.
“ Jauhilah sifat dusta, sebab dusta itu menyeret kepada keburukan, dan keburukan itu menyeret ke neraka. Seorang manusia tak henti- hentinya berdusta dan mengharapkan dusta, akhirnya dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)
keempat : Dijauhi oleh para Malaikat
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
اِذَاكَذَبَ اْلعَبْدُ كِذْبَةً تَبَاعَدَعَنْهُ اْلمَلَكُ مِيْلاً مِنْ نَتْنِ مَاجَاءَ بِهِ
“Jika seorang hamba berdusta, maka Para malaikat menjauh drinya sejauh satu mil karena sangat busuk bauk perbuatannya itu.” (HR. At- Turmudzi dan Abu Na’im)
Bila para malaikat menjauh dari kita, maka rahmat Allah pun akan jauh dari kita. Padahal rahmat Allah adalah pangkal untuk mendapatkan ridha dari-Nya. Semoga Allah selalu memberikan taufiqnya sehingga kita bisa istiqomah dalam kejujuran dalam ucapan dan perbuatan. [Abu Mahrus]
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta