Home / Niswah / Warisan Untuk Anak Kita

Warisan Untuk Anak Kita

Membahagiakan hidup anak merupakan cita-cita semua orang tua. Untuk itulah para orang tua rela untuk melakukan apa saja demi untuk membahagiakan anaknya. Mereka rela kerja siang malam tanpa kenal lelah mengumpulkan materi demi anaknya. Mereka tidak ingin anak-anaknya hidup dalam derita dan terlunta-lunta.

Namun disayangkan banyak orang tua yang menganggap kebahagian terbatas hanya pemenuhan kebutuhan materi dan mengesampingkan kebutuhan ruhani. sehingga ketika meninggalpun, orang tua berharap bisa meninggalkan warisan harta yang banyak untuk anak-anaknya. Yang tidak habis dimakan sampai tujuh turunan.

Islam tidak umatnya untuk menjadikan harta sebagai warisan bagi anak-anaknya. Namun bagi orang tua yang bijak, mereka akan menyiapkan warisan yang jauh lebih berharga dari harta.

  1. Menanamkan Tauhid yang lurus.

Aqidah dalam diri adalah ibarat pondasi bagi sebuah bangunan. Semakin bagus campuran material dan bahan-bahannya serta dihitung dengan perhitungan yang tepat, niscaya bangunan akan berdiri kokoh walaupun diterjang angin dan di guyur hujan lebat. Demikian juga ketika aqidah yang lurus mulai ditanamkan dalam diri anak semenjak kecil. Niscaya dia akan tumbuh berkembang menjadi seorang yang tegar menghadapi ujian iman dalam kehidupannya

  1. Selalu bersukur dengan karunia Allah

 Anisykurlillah”  adalah satu kalimat yang mengandung sejuta makna yang sangat bermanfaat bagi keluarga. Jika kita tidak berusaha menerapkan kalimat ini dalam kehidupan, mustahil dapat meraih kehidupan bahagia di dunia. Kalimat ini  powerfull dalam upaya kita mengajak anak untuk mencintai islam, mencintai Allah, dan mencintai Rasulullah.

Mengajari anak bersyukur hakikatnya adalah mendidik anak untuk selalu ingat kepada pemberi nikmat; Allah subhanahu wata’ala.  Sehingga anak akan terjaga dari perilaku dosa karena selalu merasa diawasi Allah.

  1. Memperhatikan apa yang dimakan

 Banyak orang tua yang selalu membayangkan ketika sudah memasuki usia senja; “Apa yang akan engkau makan setelah aku pergi nanti, nak?”. Pertanyaan ini wajar karena berangkat dari rasa cinta kepada anak.  Maka saat masih hidup orang tua mati-matian bekerja dari pagi hingga malam agar dapat mewariskan sesuatu bagi anak-anakya. Tidak ada yang salah dengan “pengorbanan” ini. Namun jangan pernah dibutakan oleh kehidupan dunia yang sementara dan fana ini.

Orang tua harus membiasakan kepada anak untuk selalu berusaha segiat mungkin dalam mencari rezeki. Namun juga harus memperhatikan untuk mencari rezeki yang halal. Sehingga anak tidak menghalalkan segala cara mendapatkan harta.

  1. Menjaga rutinitas ibadah

Banyak orang tua yang bangga ketika anak sukses dalam urusan dunia. dan tidak merasa sedih ketika anak kedodoran dalam ibadahnya. Dalam Al qur’an, Allah telah memberikan gambaran kepada para orang tua tentang tata cara mendidik anak.

أمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.[QS. Al-Baqarah : 33]

Nabi Yakub ‘alaihissalam menanyakan kepada anak-anaknya bukanlah tentang harta atau urusan perut saja, melainkan yang lebih  penting dari itu. Yakni, “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?”. Hati beliau menjadi lega ketika anaknya menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim dan Ismail dan Ishaq. Yaitu Tuhan Yang Tunggal, dan kepada-Nyalah kami akan menyerah diri.

  1. Pemahaman bahwa setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan
يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[2] lagi Maha mengetahui. (QS. Luqman : 16)

Ayat ini mengandung nasihat, untuk selalu berbuat hal baik, menghindari perbuataan buruk. Karena perbuatan apapun (baik buruk atau baik) itu walau kecil akan mendapat balasan. Karena Allah itu Maha Tahu dan Maha Adil. Jadi seseorang itu harus waspada dalam mengerjakan suatu hal.

  1. Anak jauh dari sifat sombong

Sebagai mana pesan luqman kepada anaknya,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)

Betapa Luqman begitu peduli akan pendidikan anaknya. Beliau tidak mewariskan harta yang melimpah kepada anaknya. Namun beliau mewariskan sesuatu yang lebih berharga, yaitu Aqidah yang lurus, akhlaq mulia dan selalu taat kepada Allah dan Rasulnya. Allahu a’lam

Designed by Mitramuslim