Home / Makalah / RAMADHAN DATANG, NAFSU DIKEKANG?

RAMADHAN DATANG, NAFSU DIKEKANG?

Bulan Romadhon akan segera datang, maka kita pantas bergembira. Peluang pahala dibuka seluas-luasnya. Motivasi amal tercurah begitu melimpah, sementara penghalang utama disingkirkan sebulan lamanya. Pintu jannah dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.

Tapi bukan berarti semua manusia menjadi ma’shum karenanya. Masih ada kemungkinan bagi mereka untuk berbuat dosa. Malah fakta yang biasa terulang, masih banyak maksiat terpampang di depan mata, dosa pun masih menjadi pemandangan yang biasa. Mengapa?

Masih ada bahaya latin pada diri manusia. Dia adalah musuh besar manusia, tapi dianggap tuan olehnya. Perintahnya diikuti, keinginannya dituruti dan pantangannya disingkiri. Dialah nafsu yang sebagian ulama menyebutnya dengan ‘aduwwun matbuu’, musuh yang diikuti.

Nafsu, Teman dan Tunggangan Setan

Nafsu disebut pula sebagai rafiiqusy syaithan, teman akrabnya setan. Nafsu punya kecenderungan bersenang-senang, lalu setan yang menyuguhkan progam maksiat yang menyenangkan. Atau setan lebih dulu memberikan tawaran menggiurkan, lalu nafsu datang memberikan sambutan. Maka antara setan dan nafsu ibarat sejoli yang saling melengkapi keinginan pasangannya.

Ulama yang lain menyebut nafsu sebagai markabusy syaithan atau mathiyyatusy syaithan, kendaraan setan. Karena tatkala setan hendak melancarkan serangan, dia akan memboncengi nafsu yang selaras dengan kesenangan yang memperdayakan. Melalui pintu nafsu pula setan bisa masuk dan menghembuskan bisikan.

Keduanya saling berperan dalam menyesatkan, maka, kelak di neraka masing-masing saling menuduh siapa ‘biang’ yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Setan akan ‘cuci tangan’ atas ajakan yang pernah ia lakukan. Allah berfirman,

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah diri (nafsu)mu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku.” (QS Ibrahim 22)

Karakter nafsu memang tidak bersifat netral. Ia sudah memiliki kecondongan, yang jika dibiarkan akan terus mengarah kepada apa yang disenangi. Dan kecondongan nafsu itu menuju ke arah yang buruk. Inilah yang disebut dengan “nafsu ammaaratun bis suu’.” Seperti ucapan Nabi Yusuf alaihis salam yang dikisahkan oleh Allah,

“…karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS Yusuf 53)

Memang tidak salah jika manusia memiliki kecenderungan dan kesenangan terhadap wanita, anak-anak, harta dari jenis emas, perak, kendaraan pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Bahkan semua itu bisa menjadi sarana untuk taat kepada Allah.

Akan tetapi, seringkali nafsu menghasut manusia untuk melampaui batas dari petunjuk wahyu. Nafsu tak puas hanya sebatas itu. Ia terus merengek agar bisa mengenyam segala kesenangan dengan cara yang haram, mengelola untuk tujuan yang haram, atau menyibukkan manusia dengan semua perhiasan itu, hingga mereka lalai dari berdzikir dan menghamba kepada Allah. Begitulah peranan nafsu dalam menyeret manusia menuju daerah larangan Allah.

Nafsu juga cenderung untuk berleha-leha, hanya menerima enaknya saja dan cenderung malas untuk berjuang dan berkorban, sementara ibadah kepada Allah menuntut total ketundukan dan pengorbanan. Karenanya, kemudian manusia enggan melakukan kewajiban dan keutamaan. Nafsu membuat kewajiban menjadi terabaikan.

Jika Dituruti, Tak Pernah Terpuasi

Sisi lain dari bahaya nafsu, ia tidak akan pernah terpuasi. Makin dituruti, makin liar pula mencari-cari. Nabi saw memberikan gambaran tentang nafsu manusia,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andaikan anak Adam memiliki dua ladang emas, niscaya dia akan mencari ladang yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut (keinginan) anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat.” (HR Bukhari)

Orang yang melampiaskan nafsunya di tempat yang haram, baik berkenaan dengan wanita, minuman keras atau mencari harta dengan jalan dosa, sulit baginya untuk berhenti. Bukan karena mereka merasa nikmat dengan apa yang telah mereka cicipi, tapi karena sulitnya mereka keluar dari kubangan syahwat dan kuatnya cengkeraman nafsu membelenggu. Dan nafsu tak akan puas hanya dengan satu jenis maksiat saja.

Syeikh Ath-Thanthawi bahkan memberikan pengandaian, “Seandainya diberikan kepada Anda seluruh harta Qarun, postur tubuh seperti Herkules dan disediakan untukmu sepuluh ribu wanita yang paling cantik dari berbagai warna kulit, bentuk dan berbagai sisi kecantikan, apakah Anda mengira telah cukup puas? Tidak, aku katakan dengan tegas, ‘tidak.., aku menulisnya dengan pena yang tajam. Akan tetapi, satu saja wanita yang halal untukmu niscaya cukup bagi Anda. Janganlah Anda menuntut bukti kepada saya, karena setiap kali Anda menoleh kepada kehidupan sekitar Anda niscaya Anda akan mendapatkan bukti yang valid, jelas dan kasat mata.” Wallahu a’lam.

 

Designed by Mitramuslim