Di penghujung tahun 2016, sebuah peristiwa besar sekaligus menjadi rekor baru telah terjadi dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Jutaan, bukan ratusan ribu, umat islam dari berbagai penjuru dan suku, berbagai elemen dan kesatuan, berbagai usia dan profesi, berbagai ormas dan majlis pengajian serta berbagai strata sosial berkumpul menjadi satu dalam sebuah peristiwa kolosal yang dikenal dengan AKSI BELA ISLAM 3, Jum’at 2 Desember 2016. Siapapun tidak akan menduga akan terjadi sebuah fenomena seperti ini. Sungguh dahsyat dan luar biasa !!
Menggerakkan massa dalam jumlah besar memang bukan perkara mudah karena setiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda. Ditambah ego manusia yang selalu memiliki kemauan yang berbeda, membuat banyak perkumpulan bubar ditengah jalan karena beda visi dan misi. Namun fenomena ABI 3 seolah menyadarkan kita bahwa ada sensifitas yang sama dalam diri semua manusia yang ketika tersentuh sanggup menyatukan berjuta – juta jiwa. Yaitu sensifitas keimanan.
IMAN, MENYATUKAN HATI MENGUATKAN PERSAUDARAAN
Ketika memiliki kepentingan yang sama, maka sangat mudah untuk mengumpulkan berbagai individu selama masing – masing bisa menjaga kepentingan bersamanya. Namun harus diingat bahwa banyak kasus perkumpulan yang pecah kongsi karena tujuan yang hendak diraih sudah melenceng dari tujuan awal. Biasanya hal ini terjadi ketika tujuan yang hendak dicapai bersifat keduniaan, seperti jabatan, kekuasaan atau kepentingan bisnis. Seperti yang banyak menimpa partai politik di negeri ini. Ibarat hanya berkumpul jasad, namun masing – masing memiliki tujuan yang berbeda.
Berbeda dengan individu yang beriman, mereka bergerak dan bersatu dengan landasan atau dasar yang sama, keimanan. Dan perlu diketahui bahwa dasar keimanan merupakan sesuatu yang tauqifi, bersifat tetap. Tidak akan berubah walaupun sudah berganti waktu dan generasi. Tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu. Jika mereka berkumpul, maka hakikatnya mereka berkumpul jasad dan ruh. Akan sulit untuk memisahkan jenis perkumpulan semacam ini. Karena hanya berharap satu hal saja yaitu keridhoan Allah.
Kisah persaudaraan antara kaum anshor dan muhajirin adalah gambaran nyata bahwa keimanan akan menyatukan antar individu yang memiliki latar belakang berbeda. Hal ini sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur`an yang mulia.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imron ayat 103)
Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan persaudaraan kaum Muslimin dengan kalimat (فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ) tidak dengan kalimat (فَأَلَّفَ بَيْنَكُمْ). Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat persatuan hati menjadi sebab persaudaraan iman dan bukan kepada persatuan tubuh.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hal ini dengan menyatakan: “Persatuan hati adalah poros ukhuwah imaniyah (persaudaraan iman) bukan persatuan tubuh. Berapa banyak umat yang berkumpul tubuhnya namun hati mereka berpecah belah, sebagaimana firman Allah tentang orang Yahudi:
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ
“ Engkau mengira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah”. [al-Hasyr/59:14]
UKHUWAH IMANIYYAH ADALAH KARUNIA DARI ALLAH
Tidak ada seorangpun yang dapat menyatukan antara dua hati manusia, baik itu nabi maupun para ulama atau yang lainnya. Hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala semata yang menyatukan hati-hati mereka dengan hikmah dan ke Maha perkasaan-Nya. Betapa tidak, Dia-lah yang telah menyatakan hal itu kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya:
هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“ Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [al- Anfâl 62-63]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Mereka bersatu dan bersaudara serta bertambah kuat dengan sebab persatuan tersebut. Itu bukanlah hasil usaha seorang dan dengan satu kekuatan melainkan (hanya) dengan kekuatan Allah Subhanahu wa ta’ala. Walaupun engkau telah membelanjakan emas dan perak serta selainnya yang ada di bumi ini seluruhnya untuk menyatukan hati mereka setelah perselisihan dan perpecahan yang parah itu, tentulah kamu tidak dapat mempersatukannya. Karena yang mampu menpersatukan hati hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala. [Taisir al-Karimir-Rahman : 325]
MENGGAPAI PERSAUDARAAN BERLANDASKAN IMAN
Perlu diingat bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak merubah keadaan satu kaum tanpa ada usaha dari mereka untuk merubah keaadannya. Inilah yang dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’alal dalam firman-Nya:
ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. [ar-Ra’d:11].
Semua hasil akan diawali dengan proses yang pasti memakan waktu, tenaga dan fikiran. Demikian pula dengan persaudaraan kokoh yang dibangun berlandaskan keimanan. Di antara proses mengggapainya adalah:
- Meluruskan Aqidah dan cara beragama dengan sesuai dengan apa yang telah dicontohkan para salaf. Yaitu dengan menjunjung tinggi syariat islam dan mengedapan pemurnian tauhid serta menjauhkan dari syirik. Sekaligus mengikis habis kebid’ahan yang terbukti memecah belah barisan dan ukhuwah kaum muslimin.
Syaikh Muhammad al-Basyir al-Ibrahimi menjelaskan :” Setelah kita berfikir, meneliti dan mengkaji keadaan umat dan sumber penyakit-penyakitnya. Kita benar-benar mengetahui bahwa jalan-jalan kebid’ahan dalam Islam adalah pemecah belah kaum Muslimin. Juga kita mengetahui ketika kita melawannya berarti melawan seluruh keburukan”.
- Dasar persaudaraan iman adalah ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai konsekwensi kesempurnaan iman dan takwa. Sebab persaudaraan iman ini adalah ibadah yang tidak diterima tanpa keikhlasan.
- Komitmen dengan manhaj Islam yang benar dan ketentuannya yang merupakan kesempurnaan ikhlas. Sehingga bersatu dan berpisah pun di karena Allah Azza wa Jalla sebagaimana dijelaskan dalam firman Nya:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِن دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“ Apakah kamu akan mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyatan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. [at-Taubah:16]
- Melaksanakan tugas nasehat-menasehati yang menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen terhadap manhaj yang shahih. Oleh karena itu para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berbai’at dengannya, sebagaimana dijelaskan Jarir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu :
بَايَعْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَلَى إِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Aku berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menasehati setiap muslim. [HR al-Bukhari 1/20]
- Tugas nasehat-menasehati tentunya menjadikan kaum Muslimin bekerjasama dalam kebaikan dan takwa, sebagaimana diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“ ..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa “. [al-Mâidah :2].
Kerja sama yang baik ini akan menghasilkan sikap solidaritas terhadap saudara seiman.
- Memiliki solidaritas, berkorban dan tolong menolong dalam memenuhi kebutuhan hidup saudaranya, sebagai wujud kesempurnaan iman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“ Tidak sempurna iman salah seorang kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
Termasuk hakikat solidaritas islami adalah menjaga persatuan diantara kaum muslimin dan melakukan ishlah diantara kaum muslimin yang berselisih. Allah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“ Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS Al Hujurat: 10)
Untuk itu islam melarang hal-hal yang dapat memicu perselisihan dan perpecahan diantara kaum muslimin seperti saling mencurigai, saling memata-matai, saling bersu’udzan, dan lainnya.
Semoga Allah menjadikan kita dan kaum muslimin seluruhnya sebagai orang-orang yang saling bersaudara, saling mencintai dan menyayangi, serta saling menasehati dalam kebaikan dan ketaqwaan. Semoga Allah menjadikan kita dan kaum muslimin semuanya menjadi orang-orang yang berpegang teguh dengan KitabNya dan Sunnah nabiNya. Allahu al musta’an.
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta