Home / Makalah / PENGADILAN AKHIRAT

PENGADILAN AKHIRAT

Islam telah mengajarkan bahwa perbuatan dan perilaku kita ada konsekuensinya, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Begitu pula ada penegakan hukum dan keadilan di dunia, sebagaimana ada penegakan hukum serta keadilan di akhirat. Walaupun realitanya antara keduanya ada perbedaan yang jauh. Pengadilan Allah Ta’ala di padang mahsyar nanti, amatlah dahsyat dan maha adil. Adapun pengadilan manusia di dunia seringkali jauh dari potret keadilan.

Realita Keadilan di Dunia

Setiap manusia berhak memperoleh keadilan, baik dari masyarakat maupun dari negara tanpa terkecuali. Tidak pandang bulu, entah itu pejabat, rakyat kecil, orang kaya atau kalangan miskin. Namun dalam prakteknya, prinsip tersebut sudah tak lagi kita jumpai hari ini. Sistem hukum yang ada dinilai belum mampu memberikan keadilan kepada masyarakat yang tertindas. Justru sebaliknya, hukum menjadi alat bagi pemegang kekuasaan untuk bertindak semena-mena. Mereka yang berkantong tebal pasti aman dari gangguan hukum walaupun aturan negara dilanggar.

Contoh paling nyata adalah kasus penistaan Al-Qur’an. Meskipun secara hukum negara dan agama jelas-jelas bersalah, namun sampai saat ini tak seorang aparat pun yang berani menghukumnya. Seolah-olah tuntutan jutaan rakyat bumi pertiwi ini tak ada nilainya. Berbeda ketika pelaku kriminal berasal dari rakyat biasa, kasus pencurian dalam nominal kecil sering berujung penahanan yang terlampau lama. Lebih menyesakan dada, semua itu tersebab lantaran perut yang tak kuasa menahan lapar.

Pengadilan Akhirat

Setiap apa yang kita lakukan, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan ataupun keyakinan, semuanya tidak terlewatkan oleh pena para malaikat. Allah berfirman,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ، وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar tercatat semuanya.’ Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabbmu tidak mendzalimi seorangpun.” (QS. al-Kahfi: 49).

Setiap manusia pada pengadilan akhirat nanti, tidak akan bisa menyewa pengacara, tidak pula didampingi keluarga dan sanak saudara. Tak satupun di antara mereka yang dapat menolong kita sebagaimana halnya saat hidup di dunia. Setiap kita akan maju sendiri-sendiri di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil, untuk mempertanggungjawabkan keyakinan, ucapan dan perbuatan kita.

Saat itu, mulut kita akan dibungkam dan dikunci rapat. Jikalau pada pengadilan dunia, lisan kita bisa berbicara, berkelit atau bahkan berdusta, maka pada pengadilan akhirat nanti mulut ini akan terdiam, kelu dan tak bisa berucap, kendati hanya sepatah kata. Sebaliknya seluruh anggota tubuh kita dipersilahkan untuk bersaksi. Mata, telinga, tangan, kaki, bahkan kulit, semuanya berbicara membeberkan apa yang pernah kita lakukan di dunia.

Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini, Kami kunci mulut-mulut mereka, dan yang akan berbicara adalah tangan-tangan mereka, dan sebagai saksi ialah kaki-kaki mereka terhadap apa yang mereka kerjakan (di dunia).” (QS. Yasin: 65).

Tak Ada yang Bisa Berkelit

Keadilan hari itu akan dijunjung tinggi dan timbangan akan ditegakkan dengan sangat akurat. Tak ada seorang pun yang dapat berkelit atau merubah keputusan-Nya. Karena yang bertindak sebagai hakim di padang mahsyar nanti adalah Allah Ta’ala sendiri, pencipta manusia dan alam semesta. Tidak akan ada lagi sogok menyogok, beking mem-beking, ngeles me-ngeles, kongkalikong maupun pasal-pasal karet. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan keperkasaan Allah.

Selihai apapun manusia mempermainkan hukum di dunia, mereka tak akan pernah bisa lepas dari jeratan hukum di pengadilan akhirat. Di dunia boleh saja mereka terhindar dari dinginnya lantai penjara. Namun, di akhirat mustahil mereka bisa lari dari hukuman dan azab Allah Ta’ala. Sebuah puisi patut dijadikan nasihat bagi kita.

Di pengadilan dunia, uang dapat membungkam

Ketenaran berkuasa untuk mengurangi tuntutan

Kepandaian lidah juga mampu untuk merubah dakwaan

 

Namun di pengadilan akhirat, uang sudah tak mempan

Ketenaran laksana debu yang beterbangan

Bersilat lidah pun hanya angan-angan

 

Karena mulut telah terkunci, tangan angkat bicara

Kaki bersaksi atas segala yang telah terlaksana

Semua terkuak tak terlewatkan walau seberat debu jua

Maka, takutlah akan pengadilan akhirat-Nya.

Semoga kita sebagai umat Islam yang ketika di dunia sering terdzalimi, kelak di akhirat akan mendapatkan keadilan-Nya yang selama ini sangat susah diusahakan. Wallahu a’lam. (Abu Absi).

Designed by Mitramuslim