Home / Kajian Syar'i / Agar Ukhuwah berbuah indah

Agar Ukhuwah berbuah indah

Seperti bangunan kokoh, demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan perihal kaum muslimin ketika mereka berada dalam satu barisan. Tidak akan goyah walau diterjang badai  atau dihempas ombak lautan. Ibarat satu tubuh, jika satu anggota mendapatkan sakit maka yang lainpun akan merasakan sakit yang sama. Tatkala yang satu mendapat kedzoliman, yang lain berusaha membantu dengan segala tenaga dan upaya, atau minimal dengan doa. Seperti itulah Islam menggambarkan ukhuwah islamiyyah.

Definisi Ukhuwah

Secara bahasa ukhuwah berasal dari kata akhun ( أَخٌ ) yang berarti teman atau sahabat. Adapun secara istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling menolong,saling pengertian dan tidak menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allah semata.

Adapun dalil yang memerintahkan kepada kita untuk menjaga ukhuwah adalah firman Allah,

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً  فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ  فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allaah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imran [3]: 103).

Imam Al-Qurthubi  dalam tafsirnya  Juz IV / 163 menyebutkan bahwa  Allah subhanahu wata’ala mewajibkan supaya berpegang teguh kepada Qur’an dan Sunnah nabi-Nya dan agar menyelesaikan permasalahanya berdasarkan keduanya. Allah juga memerintahkan agar berjama’ah dalam mengamalkan islam, sebab dengan cara demikian maka akan ada kesepakatan dan kesatuan yang merupakan syarat utama bagi kebaikan dunia dan agama.

Tingkatan Ukhuwah .

Kejayaan Islam akan diraih ketika terjadi persatuan di antara umatnya. Persatuan yang berlandaskan iman.  Untuk mencapai persatuan yang didambakan ini perlu beberapa tahapan yang harus dilalui.

  1. Ta’aruf. Tingkatan ini adalah tingkatan yang paling dasar dalam ukhuwah. Yaitu dengan adanya interaksi yang memberikan manfaat untuk lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik, seperti: tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran. Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan terhadap suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi dan lain sebagainya. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan dengan tujuan untuk memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku.
  1. Yaitu sikap saling memahami antara satu dengan lainnya. Proses ini harus berjalan secara alami tanpa ada tekanan. Seperti bagaimana kita memahami kekurangan dan kelebihan saudara kita. Sehingga kita bisa tahu apa yang di sukai dan tidak di sukai dan bisa bersikap tanpa menyinggung perasaan orang lain.
  1. Ta’awun. Yaitu saling tolong menolong sebagai kelanjutan dari sikap tafahum. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati yaitu dengan saling mendo’akan, pemikiran seperti berdiskusi dan saling menasehati, dan amal anggota badan yaitu dengan saling membantu. Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Karena manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan org lain.
  1. Yaitu sikap saling melengkapi terhadap sesama dari berbagai kekurangan. Seperti halnya ketika ada saudara yang mempunyai masalah dalam kehidupannya, maka kita ikut menanggung dan menyelesaikan masalahnya tersebut. Contoh mudah nya adalah ketika saudara kita memiliki tanggungan dalam urusan materi, hutang misalnya, maka kita berusaha untuk meringankan beban tersebut. Atau misalnya ada teman yang opname di rumah sakit, kita mengadakan saweran untuk meringan biaya prawatan
  1. Ini adalah tingkatan tertinggi dalam ukhuwah. Contoh nyata dari tingkatan ini adalah seperti yang dipraktekkan para sahabat. Yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Banyak hadist yang menunjukkan itsar ini. Seperti ketika dalam suatu perang, salah seorang sahabat sangat kehausan. Kebetulan ia hanya tinggal mempunyai 1 kali jatah air untuk minum. Saat akan meminum nya, terdengar rintihan sahabat lain yang kehausan. Maka air tersebut ia berikan kepada sahabat yg kehausan itu. Saat mau meminumnya terdengar sahabat lain lagi yang merintih kehausan. Kemudian ia berikan air tersebut kepada sahabat itu. Begitu seterusnya sampai air tersebut kembali kepada si pemilik air pertama tadi. Akhirnya semua menemui syahid mendahulukan kepentingan saudaranya.

Agar ukhuwah berbuah indah

           Indahnya ukhuwah dapat dirasakan ketika hak-hak persaudaraan telah ditunaikan. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah  :

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟  قَالَ : إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ ،وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ ‏ ‏فَشَمِّتْهُ ،‏ ‏وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ . ”  رواه مسلم .

  “Hak muslim atas muslim lainnya ada enam” Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Apa itu wahai Rasulallah?” Beliau pun menjawab, “Jika engkau menjumpainya, maka ucapkanlah salam. Jika ia mengundangmu, maka penuhilah. Jika ia meminta nasehatmu, maka nasehatilah. Jika ia bersin lantas ia memuji Allah, maka jawablah. Jika ia sakit, maka jenguklah. Dan jika ia meninggal, maka iringilah jenazahnya” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits diatas dapat dijelaskan tentang hak yang kita harus ditunaikan kepada saudara kita. Yaitu :

Hak Pertama: mengucap salam ketika bertemu

Mengucapkan salam merupakan sunnah yang sangat ditekankan, yang merupakan salah satu sebab terjalinnya kecintaan diantara sesama orang beriman. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

لا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا ، وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ، أَوَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنَكُمْ

Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian, aku tunjukkan satu perkara yang jika kalian kerjakan niscaya akan tumbuhlah perasaan saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian” (HR. Muslim).

Hak Kedua: mendatangi undangannya

Syaikh ‘Utsaimin menjelaskan bahwa memenuhi undangan dapat menjadikan terhiburnya hati orang yang mengundang, menimbulkan rasa kasih sayang serta keterikatan. Nabishalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذاَ دَعَا أَحَدُكمْ أَخَاهُ فَلْيَجِبْ عُرْساً كَانَ أَوْ نَحْوَهُ

 “Bila salah seorang diantara kalian diundang, maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut, baik acara pernikahan ataupun yang lainnya” (HR. Muslim).

Hak Ketiga: Memberi Nasehat Ketika diminta

Jika saudara kita meminta kepada kita untuk dinasehati, maka kita wajib menunaikan haknya yakni dengan memberinya nasehat. Begitu juga ketika saudara kita tidak mendatangi dan tidak pula meminta nasehat kepada kita, sedang ia dalam keadaan madharat (bahaya) ataupun ketika hendak berbuat dosa, maka kita wajib untuk menasehatinya. Karena sesungguhya hal ini termasuk bagian dari agama, sebagaimana sabda Rasulullah,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

Agama adalah nasehat” (HR.Muslim).

Hak  Keempat: Menjawab dengan Doa Ketika Saudaranya Bersin

Dalam Islam disyariatkan untuk mendoakan saudara muslim yang bersin. Doa ini hanya ditujukan kepada orang yang memuji Allah (dengan ucapan ‘Alḥamdulillāh’) setelah bersinnya. Adapun jika ia tidak memuji Allah setelah bersinnya maka ia tidaklah berhak untuk dijawab dengan doa tersebut.Lafazh doa yang diucapkan ketika mendengar seorang yang bersin kemudian memuji Allah ialah“Yarḥamukallāh(Semoga Allah merahmatimu). Kemudian setelah didoakan saudaranya, orang yang bersin tadi juga dituntunkan untuk balik mendoakan saudaranya dengan doa, “Yahdiikumullāhu wa yushliḥu baalakum(Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu)”.

Hak Kelima: Menjenguk Ketika Saudaranya Sakit

Menjenguk orang sakit dan mengunjunginya merupakan hak seorang muslim atas muslim lainnya. Apalagi orang yang sakit tersebut memiliki hak kekerabatan, maka tentunya ia lebih berhak lagi untuk dijenguk, dikunjungi, dan didoakan. Diantara doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menjenguk orang sakit ialah, “Laa ba-sa thohuurun Insyaa Allāh (Tidak mengapa, sakitmu ini akan menjadi permbersih dosa-dosamu insyaa Allah)”

Hak Keenam: Mengiringi Jenazahnya sampai dikuburkan

Mengiringi jenazah juga hak sesama muslim yang semestinya ditunaikan, padanya juga terdapat ganjaran pahala yang begitu besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar”. (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Jika hak telah ditunaikan, niscaya indahnya ukhuwah atau persaudaraan dapat dirasakan. Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Alloh dan rosul-Nya. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan islam ini. Wallahu  a’lam bisshawab.

Designed by Mitramuslim