Home / Makalah / MENUNTUT ILMU AGAMA UNTUK DUNIA

MENUNTUT ILMU AGAMA UNTUK DUNIA

Niat ikhlas tentu saja sangat dibutuhkan ketika kita mempelajari ilmu agama. Karena tanpa niat yang benar, amalan kita jadi sia-sia. Oleh karena itu, para ulama sejak masa silam sangat perhatian dengan niatnya. Jangan-jangan karena niatan yang tidak ikhlas itulah yang membuat amalan-amalan termasuk pula menuntut ilmu agama menjadi sia-sia.

Sebagaimana kita ketahui, siksaan bagi orang yang belajar agama namun tidak ikhlas begitu pedih. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1905 di dalam kitabnya, bahwa tiga golongan yang pertama-tama memasuki neraka, salah satunya adalah mereka yang belajar ilmu agama dan Al-Qur’an namun tidak karena Allah Ta’ala.

Mereka belajar agama hanya agar dikenal sebagai orang yang alim. Mereka juga belajar Al-Qur’an hanya agar mendapat gelar qari’. Orang-orang seperti ini akan merugi di dunia dan menyesal di akhirat kelak.

Kuliah Agama Hanya Mencari Gelar

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Siapa yang jihadnya dengan lisan dan perbuatannya untuk membela kebenaran, ia disebut orang yang ikhlas. Sedangkan yang punya maksud selain itu, ia akan mendapatkan sesuai yang diniatkan dan amalannya tidak diterima.” Beliau melanjutkan, “Seluruh amalan shalih yang dilakukan oleh orang yang riya’, amalannya itu batil karena luput dari ketidak-ikhlasan. Padahal setiap amalan shalih harus didasari ikhlas. Amalan tidak hanya ikhlas namun hendaklah mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak, amalan tersebut tertolak.” (alQowa’id wa alUshul alJami’ah, hlm. 37).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2/338 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Berdasarkan hal di atas, kebanyakan orang bingung bagaimana hukum mengambil kuliah jurusan agama yang tujuannya hanya untuk mencari ijazah. Ada yang menyatakan, “Kami tidak mau kuliah agama karena sulit masuk surga (karena niatan yang tidak ikhlas).”

Maka kita katakan pada orang yang mengutarakan semisal itu, saat ini kita hidup di zaman yang apa-apa butuh ijazah baik perihal agama ataupun urusan dunia. Masa kini adalah masa di mana selembar ijazah itu sangat dibutuhkan. Yang tidak memiliki ijazah saat ini tidak bisa menempati posisi penting, baik posisi mengajar, menjadi qadhi (hakim), atau meraih posisi krusial lainnya.

Oleh karena itu, belajar di universitas (kuliah agama) untuk meraih ijazah supaya mendapatkan posisi strategis dalam dakwah dan bermanfaat bagi kaum muslimin, seperti itu tidaklah menafikan keikhlasan.

Adapun jika ada yang miskin lalu mempunyai niatan bahwa ia ingin menempuh kuliah agama agar mendapatkan ijazah. Dari situlah ia mendapatkan harta, namun sayangnya ia tidak punya keinginan untuk meraih akhirat sama sekali. Orang seperti ini dikatakan berdosa.

Namun ini berbeda jika yang ditempuh adalah kuliah teknik supaya menjadi lulusan sarjana teknik, lalu ia mencari pekerjaan dengan ijazahnya tersebut, seperti ini tidaklah masalah. Karena ilmu teknik tidak masuk dalam ilmu syari’at.

Akan tetapi, ilmu agama tetap lebih afdhol dari ilmu dunia tersebut. Karena ilmu agama itu lebih dibutuhkan. Para ulama itu lebih dibutuhkan untuk membimbing umat sehingga mereka bisa berada di jalan yang lurus.” (atTa’liq ‘ala alQawa’id alUshul alJami’ah, hlm. 72-73).

Ikhlaskan Niat Dalam Belajar

Ulama-ulama salaf banyak memberikan nasehat bahwasanya meluruskan niat untuk ikhlas butuh kesungguhan. Dari Sulaiman bin Daud al-Hasyimiy, ia berkata:

رُبَّمَا أُحَدِّثُ بِحَدِيْثٍ وَلِيَ نِيَّةٌ ، فَإِذَا أَتَيْتُ عَلَى بَعْضِهِ ، تَغَيَّرَتْ نِيَّتِيْ ، فَإِذَا الْحَدِيْثُ الْوَاحِدُ يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّاتٍ

“Terkadang ketika aku mengutarakan satu hadits, aku butuh satu niat. Ketika aku mengarah ke sebagiannya, beralihlah niatku. Dapat disimpulkan bahwa satu hadits ternyata butuh beberapa niat.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/83).

Sahl bin ‘Abdullah at-Tusturi berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada jiwa selain keikhlasan. Satu bagian pun teramat sulit dicapai oleh jiwa.”

Yusuf bin al-Husain ar-Rozi mengutarakan:

أَعَزُّ شَيْءٍ فِيْ الدُّنْيَا اَلْإِخْلَاصُ، وَكَمْ اجْتَهَدَ فِيْ إِسْقَاطِ الرِّيَاءِ عَنْ قَلْبِيْ، وَكَأَنَّهُ يَنْبُتُ فِيْهِ عَلَى لَوْنِ آخَرَ

“Sesuatu yang paling sulit (untuk diraih, -pen) di dunia adalah ikhlas. Seringnya aku berusaha untuk menghapus riya’ dari hatiku, namun riya’ itu tumbuh lagi dengan warna yang lain.(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/84).

Semoga kita selalu dimudahkan oleh Allah untuk selalu ikhlas dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Aamiin, Ya Saami’ad Du’aa.

Designed by Mitramuslim