Kebanyakan kita menilai mulia-tidaknya akhlak seseorang hanya berpatokan pada ramahnya ia saat di kantor atau berapa sering ia melontar senyum. Pola penilaian seperti itu tidaklah mutlak keliru. Hanya saja kurang jeli. Sebab, sangat memungkinkan seseorang memiliki akhlak ganda. Berakhlak mulia di satu tempat, tetapi tidak demikian di tempat yang lain. Tergantung kepentingan. Lantas, bagaimanakah Islam membuat barometer penilaian kemuliaan akhlak seseorang?
Tujuan Utama Diutusnya Nabi
Di antara tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain untuk menegakkan tauhid di bumi, juga dalam rangka menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau:
بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani).
Sedemikian besar perhatiannya terhadap akhlak, Islam tidak hanya menjelaskan hal ini secara global, namun juga menerangkannya secara terperinci. Bagaimanakah akhlak seorang muslim kepada Rabb-nya, keluarga, tetangga, bahkan kepada hewan dan tetumbuhan sekalipun.
Di antara hal yang tidak terlepas dari sorotannya ialah penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Kapankah seseorang itu berhak dinilai memiliki akhlak mulia. Atau dengan kata lain, sisi apakah yang bisa dijadikan ‘jaminan’ bahwa seseorang itu akan berakhlak mulia pada seluruh sisi kehidupannya?
Barometer Akhlak Mulia
Panutan kita; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan permasalahan di atas dalam sabdanya:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).
Mengapa berakhlak mulia kepada keluarga, terutama terhadap istri dan anak dijadikan barometer kemuliaan akhlak seseorang? Setidaknya ada dua alasan:
Pertama, sebagian besar waktu yang dimiliki seseorang dihabiskan di dalam rumahnya bersama istri dan anak-anaknya. Andaikata seseorang bisa bersandiwara dengan berakhlak mulia di tempat kerjanya, belum tentu ia bisa bertahan untuk terus melakukannya di rumahnya sendiri. Dikarenakan faktor panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk ‘bersandiwara’. Di saat-saat itulah terlihat akhlak aslinya.
Kedua, di tempat kerja, ia hanyalah berposisi sebagai bawahan, yang notabenenya lemah. Sebaliknya, ketika di rumah ia berada di posisi yang kuat; karena menjadi kepala rumah tangga. Perbedaan posisi tersebut tentunya sedikit-banyaknya berimbas pula pada sikapnya di dua alam yang berbeda itu.
Ketika di kantor, ia musti menjaga ‘rapor’nya di mata atasan. Meskipun untuk itu ia harus memoles akhlaknya sementara waktu. Adapun di rumah, di saat posisinya kuat, dia akan melakukan apapun seenaknya sendiri, tanpa merasa khawatir akan dipotong gajinya ataupun dipecat.
Teladan Terbaik Dalam Berkeluarga
Sebagai teladan umat, amatlah wajar jika praktik keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bergaul dengan keluarganya kita pelajari. Dan tentu saja lautan kemuliaan akhlak beliau terhadap keluarganya tidak bisa dikupas dalam lembaran-lembaran tipis ini. Oleh karena itu, di sini kita hanya akan menyampaikan beberapa contoh saja.
Kultur masyarakat di kebanyakan negeri, urusan dapur dan tetek bengek-nya memang menjadi rutinitas istri. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya. Dan ini tidak terjadi melainkan karena sedemikian tingginya kemuliaan akhlak yang beliau miliki.
Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ibnu Hibban).
Di tengah kesibukannya yang luar biasa padat berdakwah, menjaga stabilitas keamanan negara, berjihad, mengurusi ekonomi umat dan lain-lain, beliau masih bisa menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang dipandang rendah oleh banyak suami di zaman ini.
Tidak Bosan Untuk Menasehati
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:
أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).
Timbulnya riak-riak dalam kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, jika hal itu sampai mengotori keharmonisan jalinan kasih sayang antara suami dan istri, atau bahkan menghancurkan bahtera pernikahan, tentulah sangat berbahaya. Agar mimpi buruk itu tidaklah terjadi, seyogyanya ditumbuhkan budaya saling memahami dan kebiasaan saling menasehati antara suami dan istri.
Semoga tulisan sederhana ini bisa dijadikan sarana instrospeksi diri untuk terus berusaha meningkatkan kualitas muamalah para suami dengan keluarga mereka masing-masing. Aamiin.
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta