Selain Allah, ajal manusia tidak ada yang tahu. Hari terus berganti membentuk satuan usia yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tak terasa kita telah berada di awal tahun 2020 Masehi dan telah melewati seperempat tahun 1441 Hijriyah. Bila saatnya tiba, jatah hidup ini akan berakhir dan setiap manusia akan kembali ke negeri asal. Masalahnya hanya tinggal persoalan waktu saja. Maka ada baiknya untuk sejenak meluangkan waktu merenungi masa hidup yang telah sekian lama berlalu.
Sudah menjadi bagian dari kodratnya, manusia memilki sifat mudah lupa, berkeluh kesah, dan terkadang lemah saat menghadapi godaan yang gencar dari segala penjuru. Menyadari begitu rentannya kita sebagai manusia dari godaan setan yang menyesatkan, maka pemahaman dan kesadaran untuk selalu muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah) dan muhasabah (introspeksi diri) adalah suatu kemestian. Harus ada dan tidak boleh alpha.
Introspeksi diri atau muhasabah adalah kewajiban yang sangat penting dilakukan. Ia adalah kunci kemuliaan dan kebersihan diri seorang muslim. Seorang mukmin yang bertakwa kepada Rabb-nya akan selalu ‘berkaca’ untuk tetap menjaga keseimbangan diri. Berkaca, agar selalu berada di jalan yang benar. Berkaca, agar ketika mendapati cela dalam diri segera bisa diperbaiki.
Salah seorang ulama salaf; Imam Hasan al-Bashri pernah berkata, “Sungguh Allah merahmati seorang hamba yang memperhatikan keinginannya dan melakukan muhasabah terlebih dahulu. Apabila pekerjaan itu karena Allah dia segera melaksanakannya, namun bila perbuatan itu bukan karena-Nya dia meninggalkan secepatnya.”
Seolah-olah beliau ingin mengatakan, “Jadikan seluruh lelah kita lillah!” Semua yang akan kita kerjakan, baik dalam waktu dekat atau untuk jangka waktu setahun kedepan, semuanya benar-benar untuk mencari keridhaan Allah. Diniatkan untuk beribadah dan mendekat kepada-Nya.
Menyikapi Tahun Baru
Hakikatnya, pergantian tahun tidak ada bedanya dengan pergantian bulan, minggu, hari, jam, atau detik. Bagi seorang muslim, semua pergantian waktu itu harus disikapi dengan sikap yang sama; memperbanyak mengingat Allah. Sebab, jika kita jernih dalam berfikir, sejatinya bukan bertambahnya umur yang kita alami, namun berkurangnya jatah kontrak kita untuk menetap di muka bumi ini.
Oleh karena itu, coba kita intip amal yang sudah kita lakukan, berapa besar ukurannya? Berapa berat timbangannya, dan berapa banyak pengaruhnya? Bandingkan pula antara kebaikan dan keburukan kita, antara jumlah pahala dan dosa? Lalu lihat, berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan dan berapa banyak maksiat yang kita kerjakan?
Jika ternyata kita dapati kebaikan lebih banyak dari keburukan kita, maka tanyakan pada diri, berapa banyak amal-amal ini yang kita lakukan secara ikhlas karena Allah. Tidak tercampuri oleh riya’, kompetisi dengan orang lain, mengejar popularitas atau gegap gempitanya media.
Selain itu, tanyakan pula pada diri kita apa kewajiban yang belum tertunaikan, serta apa saja tugas yang belum terlaksanakan. Bagaimana gambaran dan visi misi hidup kita ke depan? Apakah yang kita lakukan saat ini sejalan untuk meraih kehidupan yang lebih baik, ataukan jalan yang kita tempuh melenceng jauh dari jalur yang dititi orang-orang shalih?
Proses berkaca diri yang rutin seperti ini akan sangat membantu dalam menjadikan kehidupan lebih berkah. Hidup menjadi lebih terarah dan waktu demi waktu yang dilalui tidak akan terbuang sia-sia. Sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Saya tidak pernah menyesali sesuatu melebihi penyesalanku kepada suatu hari, dimana matahari terbenam (yang menjadi pertanda ajalku berkurang), sementara amalku tidak bertambah.”
Cara Mengetahui Kekurangan Diri
Salah satu tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan memberikan kesempatan kepada hamba tersebut untuk mengetahui aib dan kekurangannya untuk diperbaiki di kemudian hari. Oleh karena itu di dalam kitab Ihya ‘Ulum ad-Din, Imam al-Ghazali menyebutkan empat cara yang bisa digunakan untuk mengetahui kekurangan diri sendiri. Diantaranya:
Pertama, meminta kepada kawan yang jujur dan baik dalam beragama untuk mengingatkan serta menunjukkan kekurangan diri kita. Sebagaimana kata pepatah, “Temanmu adalah orang yang berkata benar tentangmu, bukan orang yang selalu membenarkanmu.”
Kedua, memanfaatkan lidah musuh, sebab orang yang dihatinya ada kedengkian dan permusuhan akan selalu mencari-cari kekurangan orang yang dimusuhinya. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mengetahui celah-celah diri dan kemudian memperbaikinya.
Jika kekurangan dan aib diri sudah bisa kita ketahui, maka fokuslah untuk memperbaikinya. Bukan fokus menzoom kesalahan orang lain, tapi lalai dari aib diri sendiri. Sibuk mencari noda saudara, tapi melupakan kotoran yang nampak di depan mata.
Semoga pergantian waktu kali ini, bisa kita gunakan untuk kembali kepada Allah Ta’ala, agar di penghujung jalan sana ada akhir yang indah menanti atas segala usaha yang kita kerahkan. Wallahu a’lam. (Abu Absi).
YDSUI Yayasan Dana Sosial Surakarta