Home / Makalah / WARISAN DI AKHIRAT

WARISAN DI AKHIRAT

Kaya mendadak menjadi cita-cita kebanyakan manusia di tengah zaman krisis seperti hari ini. Tak perlu berlelah-lelah dalam mencari nafkah, tanpa repot berpeluh keringat, dan tanpa merasakan encok pinggang lantaran banting tulang seharian. Sepintas menarik dan menggiurkan, namun mungkinkah terjadi? Bisa dibilang mustahil melihat realita ekonomi masyarakat hari ini. Akan tetapi masih ada satu pintu peluang untuk mewujudkan angan-angan tersebut; yaitu melalui warisan.

Berbicara warisan, hampir semua mata akan hijau dibuatnya. Seseorang bisa langsung kaya mendadak dalam hitungan hari atau bahkan jam. Namun semua itu akan menjadi pepesan kosong, jika kita tidak mempunyai keluarga atau orang tua yang bisa diharapkan mewariskan harta bendanya. Kalaupun boleh mimpi di siang bolong; mempunyai keluarga jutawan yang bisa kita harapkan warisannya. Akan tetapi fakta di lapangan justru berbicara lain, warisanlah yang acap kali menjadi penyebab musibah di dalam sebuah keluarga.

Tak sedikit yang saling bunuh hanya lantaran merasa bagiannya terlihat lebih sedikit. Ada pula yang kelewat berani mengkritisi hukum waris dalam Islam yang membedakan jatah laki-laki dengan perempuan. Tak jarang pula kita mendengar seorang anak tega membunuh orang tuanya supaya cepat merasakan manisnya harta warisan. Tapi alih-alih bisa mencicipinya, justru jeruji besi dan dinginnya lantai rutan yang wajib ia rasakan. Semua fenomena tersebut hanya akan kita temui di dunia saja. Lain ceritanya ketika kita masuk episode kehidupan akhirat. Meskipun di sana juga didapati pembagian warisan, namun bisa dipastikan tidak akan terjadi percecokan atau perkelahian.

Warisan Di Akhirat

Kejadian di kampung akhirat merupakan rentetan sekian peristiwa yang setiap penggal episodenya memberikan pelajaran amat berharga. Diantara peristiwa tersebut adalah pembagian warisan bagi penduduk surga.

Semua manusia yang Allah ciptakan, masing-masing telah disiapkan dua rumah untuknya. Satu rumah di surga, sedangkan yang lain berada di neraka. Ketika orang kafir masuk kedalam neraka, maka jatah rumahnya yang berada di surga akan diwariskan kepada penghuni surga. Begitu pula sebaliknya, jika orang beriman menginjakan kakinya di surga, maka jatah rumahnya yang berada di neraka akan diperuntukan bagi penghuni neraka. Sehingga penduduk surga memiliki dua rumah di surga, sedangkan para penghuni neraka mendapatkan jatah dua rumah di neraka.

Allah Ta’ala berfirman berkaitan dengan nasib orang-orang beriman,

أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11

“Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Mu’minun: 10-11).

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menyebutkan sebuah hadits, “Tak seorang pun dari manusia yang telah Allah ciptakan, melainkan disiapkan baginya dua rumah. Satu rumah berada di surga, sedangkan yang lain berada di neraka. Ketika seseorang mati dan dimasukan ke dalam neraka, maka penduduk surga akan mewarisi rumah mereka.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahihu al-Jami’ no. 5799).

Warisan Bagi Orang Kafir

Ketika orang-orang beriman sedang sibuk memperoleh warisan, golong orang kafir juga tak kalah sibuknya turut mendapatkan bagian. Namun bukan warisan yang membahagiakan, melainkan menyengsarakan. Kenapa? Karena yang mereka warisi adalah dosa-dosa orang beriman.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah bersabda, “Manusia akan datang pada hari kiamat dengan membawa dosa sebesar gunung. Lalu Allah Ta’ala berkenan mengampuni mereka dan mewariskan (melimpahkan) dosa-dosa tersebut kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani.” (HR. Muslim: 2767). (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim, 5/339-340).

Istri Warisan

Bukan hanya harta dan dosa saja yang akan saling diwariskan, bahkan istri-istri orang kafir pun akan turut diwariskan kepada para penduduk surga. Diceritakan dari Abu Umamah bahwa Rasulullah bersabda, “Tak seorang pun yang dimasukkan ke surga oleh Allah, kecuali akan diberi tujuh puluh dua istri. Dua istri dari golongan bidadari dan tujuh puluh istri diambilkkan dari (pasangan) penghuni neraka. Tidak seorang pun dari para bidadari itu melainkan ia siap melayani mereka, begitu juga suami mereka.” (HR Ibnu Majah).

Hisyam bin Khalid mengatakan, “Ahli neraka, maksudnya orang-orang yang masuk neraka, akan memberikan istri-istrinya kepada orang-orang mukmin di surga. Seperti halnya Fir’aun, yang istrinya juga termasuk diberikan kepada ahli surga.” (Abdurrauf al-Munawi, Faidhu al-Qadir, 5/468).

Setelah mengetahui jatah kita di akhirat, maka tidak patut bagi kaum muslimin masih sibuk berebut harta warisan, apalagi sampai menimbulkan permusuhan dan pemutusan tali persaudaraan dalam suatu keluarga. Daripada sibuk memikirkan semua itu, menyiapkan bekal amal shalih tentu jauh lebih penting. Supaya kelak kita menjadi orang-orang yang mendapat rejeki ‘nomplok’, yaitu warisan di surga. Wallahu a’lam. (Abu Absi).

Designed by Mitramuslim